Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Nasihat Indah dari Luqmanul Hakim

 

Nasihat Indah dari Luqmanul Hakim


majalahumdah.com - Salah satu surat yang didalamnya terkandung Tashawuf, Tauhid dan Fiqih adalah surat Luqman, ketika Luqmannul Hakim manasihati buah hatinya tentang pesona serta keindahan hati orang yang bersyukur, larangan menyekutukan Allah, dan melaksanakan perintah shalat.  Namun sebelum kita mengetahui apa yang disampaikan Luqman kepada anaknya, alangkah baik jika kita mengetahui siapa sosok Luqmanul Hakim sebenarnya, sebab bukankah salah satu terapi hati adalah mengenal orang shalih, mereka yang mencintai Allah dan Allah juga akan lebih mencintainya. Berdasarkan satu pendapat nama lengkap Luqman adalah Luqman bin Faqhur bin Naqhur bin Tarikh, seorang cucu laki laki dari saudara Nabiullah Ibrahim AS, dalam pendapat lain Luqman adalah anak laki laki saudara Nabi Ayyub AS dan dalam pendapat lainnya Luqman adalah anak laki laki dari bibi pihak Ibu Ayyub AS. Adapun usia Luqman berdasarkan satu pendapat adalah 1000 tahun hingga dia berjumpa dengan Nabi Daud AS. Selain itu sepakat para ulama Luqman bukan seorang Nabi melainkan dia seorang hakim, kecuali Aqramah dan Sya'bi yang berpendapat bahwa Luqman adalah Nabi.  

 Jumhur ulama yang berpendapat Luqman bukan seorang nabi berdasarkan Hadis Nabi SAW dari pada Ibnu Umar dan diriwayatkan oleh Hakim dan At Tirmizi dalam Nawadirul Ushul dari Abu Muslim Al Khaunali berkata Rasulullah SAW :

 

لم يكن لقمن نبيا و لكن كان عدبا كتيرا التفقيرحسن القين احب الله فاحبه فمن الله عليه بالحكمة و خيره في ان يجعله خليفة يحكم بالق فقال ان خيرتنى قبلت العافية و تركة البلاء وان عزمت علي فسمعا و طاعة فانك ستعصمني

Luqman bukan Nabi, namun dia adalah hamba yang sering berfikir, berkeyakinan baik, mencintai Allah lalu Allah mencintainya, Allah memberikan hikmah dan pilihan untuk menjadi pemimpin yang berkuasa secara benar, Luqman menjawab Rabb jika engkau memberikan pilihan maka aku memlilih untuk menerima kesehatan dan jauh dari musibah, namun jika engkau meminta maka aku akan mendengar dan taat, karena engkau akan menjagaku.

 Baca Juga: Kronologi Sejarah Peradaban Islam

Adapun bagaimana postur tubuh Luqman ulama juga berselisih pendapat,  menurut Jabir bin Abdullah Luqman memiliki tubuh yang sangat pendek dan hidungnya tidak mancung. Sedangkan, Ibnu Jarir berpendapat Luqman seorang hamba sahaya yang berprofesi sebagai tukang kayu dan berasal dari Habsyi.

 Berikut ini adalah Mutiara Hikmah Luqmanul Hakim kepada anaknya, nasihat yang mudah mudahan memberikan secercah cahaya untuk hati yang gelap atau oase pada gersangnya sahara hati :

 Bersyukur kepada Allah.

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".  Imam jalalaini dalam  tafsir Jalalain berkomentar (Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri) karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri (dan barang siapa yang tidak bersyukur) atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya (maka sesungguhnya Allah Maha Kaya) tidak membutuhkan makhluk-Nya (lagi Maha Terpuji) Maha Terpuji di dalam ciptaan-Nya.

Syukur secara etimologi (bahasa) adalah puji, secara terminologi (istilah) suatu perbuatan yang menginformasikan dari pada membesarkan mun'im (pemberi nikmat) dengan sebab pemberiannya. Syukur lebih tepatnya secara istilah adalah mempergunakan seluruh nikmat yang diberikan Allah kepada esensi penciptaan nikmat tersebut.[3]  Misalnya saat Allah memberikan kita nikmat lidah maka bentuk syukur kita kepada Allah adalah dengan menggunakan lidah kepada membaca Kalam Allah, mengajarkan ilmu, demikian nikmat anggota tubuh yang lain.  Ibnu Abbas berpesan tentang syukur kepada kita dengan :

 

 الشكر هو الطاعة بجمع الجورح لرب الحلاءق فى شر و العلانيت

Syukur adalah taat dengan segala anggota yang Allah berikan, baik dalam kesunyian dan terang- terangan.

Kesadaran akan nilai syukur membawa seorang insan sangat berhati hati dalam mempergunakan nikmat dan sangat takut jika dengan nikmat itu Allah mengundang murka Allah.  Syukur membuat seorang manusia menjadi insan terkaya, dia tidak akan pernah merasakan kehilangan nikmat Allah untuknya sebab dia meyakini bahwa segala yang dikatakan baik oleh Allah lebih baik dari pada yang dia katakan baik sebab kebaikan tidak dikarenakan dengan keinginannya. Adapun cara menumbuhkan rasa syukur adalah dengan memandang nikmat dunia kepada orang lain yang lebih susah atau lebih kurang dari apa yang kita miliki sekarang, misalnya jika hari ini kendaraan kita hanyalah sebuah sepeda, maka lihatlah orang yang ketika pergi ke suatu tempat hanya dengan berjalan kaki dan seterusnya jika hanya memiliki sepasang kaki untuk melangkah pandanglah mereka yang kakinya cacat. Selain itu cara memupuk rasa Syukur adalah dengan bergaul bersama orang fakir seperti yang dikatakan oleh Abu Thaib :

 

 من جلس مع الفقرء حصل له السكر و الرضا بقسمت الله تعلى 

Barang siapa yang bergaul bersama orang miskin niscaya dia akan memperoleh rasa syukur dan ridha dengan pemberian Allah SWT.

Syukur laksana perniagaan seorang hamba dengan Pencipta semesta, perniagaan yang tidak akan pernah ada ruginya dan keuntungan yang diperolehnya bersifat hakiki dan abadi yaitu fahala dari-Nya. Adapun manusia yang tidak bersyukur sangat mudah putus asa dengan rahmat Allah, dia tidak akan pernah tersenyum dengan nikmat mata, kaki, lisan, bahkan nikmat nafas yang setiap detik dia terima, dan disayangkan terkadang membuat lisannya sangat mudah beralibi dengan segala kekurangan itu, memaksakan hatinya dan mendustai ilmunya sendiri misalnya dengan cara mencari rezeki dengan cara yang haram padahal dia tahu bahwa itu dilarang.  Hal ini sangat jauh dari yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para ulama terdahulu yang menjadikan segala  musibah dan kekurangan untuk bersyukur kepada Allah, bersyukur atas musibah Allah ??

Rasulullah SAW bersabda :

   الحمد الله على ما ساء و سر

Segala puji bagi Allah atas musibah yang pedih dan nikmat yang menyenangkan.

Adapun nikmat yang harus disyukuri saat ditimpa musibah sebagaimana yang katakan oleh Ibnu Abbas:

ما ابتليت ببلية الا كان الله تعلي فيها اربة نعم اذ لم تكن في ديني واذ لم تكن اعظم منها و اذ لم احرم الرضا بها واذ رجنون التواب عليها

 

 Setiap diuji oleh Allah aku merasakan di dalamnya empat kenikmatan:

1. Musibah itu tidak berhubungan dengan agama.

2. Musibah bukan petaka hebat atau berat.

3. Nikmat dikarunia keridhaan dalam menerima musibah.

4. Nikmat menuggu pahala. 

 

Larangan Menyekutukan Allah SWT

 

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Menyekutukan Allah adalah satu kezaliman yang tidak pernah ditolerir dalam syariat, dia adalah dosa terbesar dalam sejarah kehidupan manusia, sekalipun manusia itu paling baik perkataannya, sikapnya dalam kehidupan jika dia tidak diikat dengan iman kepada Allah maka semuanya akan sia sia, layaknya butiran debu yang beterbangan tidak ada faidah bagi dirinya, tidak ada kemenangan baginya di negeri akhirat, padahal tujuan utama dari pada diutusnya Nabi SAW adalah melenyapkan segala bentuk penghambaan dan sujud kepada Selain Allah SWT, misalnya paganisme (sembah berhala)  yang dilakukan oleh Arab Jahiliyah.

Keimanan dan kemusyrikan layaknya dua jalan yang berbeda, jalan keimanan adalah jalan yang yang terjal, penuh bebatuan dan kesukaran, namun di akhirnya pemandu akan mengatakan bahwa ini adalah jalan yang benar dan membahagiakan. Adapun satu jalan lainnya dipenuhi dengan keindahan yang menyilaukan siapa saja yang memandangnya, perjalanan yang mulus, bebas tanpa ada hambatan namun semua itu bersifat semu dan di penghujung akan dikatakan kepadanya bahwa ini adalah jalan yang salah.

 Di zaman sekarang konsep hidup kafir yang jauh dari nilai agama, dan konsep hidup yang bebas kian menumbuhkan keresahan bahkan kehidupan mereka yang jauh dari pedoman Wahyu yang benar dan murni itu menjadi racun bagi mereka sendiri, misalnya di Amerika Serikat yang bermayoritaskan kristen berdasarkan data statistik  setiap tiga kelahiran maka satu diantaranya adalah anak diluar nikah,  selain itu di barat jumlah ibu hamil diluar nikah adalah 1,2 juta orang.[8]  Besarnya kasus kriminalitas, pembunuhan, pemerkosaan di barat yang mayoritas mereka adalah kafir sangat berbeda dengan negeri-negeri yang bermayoritaskan Muslim, Mesir misalnya anak yang lahir diluar nikah tidak lebih dari pada 1 persen, dan kini barat mulai jenuh dan lelah dengan segala kerusakan yang mereka alami, bahkan mereka mulai mencari sebuah konsep hidup yang benar benar sesuai dengan fitrah manusia, konsep hidup yang menjadi rahmatan lil alamin dan hal itu tidak ditemukan kecuali hanya dengan Islam yang mengatur segala aspek kehidupan manusia.

Kenikmatan iman, faedah, dan pengaruhnya kepada orang yang beriman tidak terhitung jumlah dan ukurannya. Bahkan seluruh kenikmatan dan kebaikan yang diperoleh di dunia maupun di akhirat, maka itu semua adalah buah dan hasil dari keimanan. Sementara seluruh kejelekan dan bencana yang tersingkirkan dari manusia di dunia maupun di akhirat, maka itu semua merupakan buah dan hasil yang dipetik dari pohon keimanan.

Namun sebagai seorang muslim kita semestinya tidak lupa  bahwa keselamantan yang sangat  menentukan adalah diakhir hayat kita kelak seperti yang dismpaikan oleh Imam Al Ghazali Minhajul Abidin : Apabila kamu mendengar kaum kafir akan kekal dalam neraka maka berhati hatilah kamu, jangan merasa aman, siapa tau kamu termasuk dari mereka sebab urusan ini sarat dengan bahaya, sedangkan kamu belum mengetahui akhir dari kehidupanmu bagaimana ditulis dalam buku ghaib, sebab dibalik kemilau terdapat bahaya yang tersembunyi.

Baca Juga: Abuya Muda Waly, Bapak Pendidikan Aceh

Dirikan Shalat

 

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

 Secara lafadh   الصلاة isim masdar dari صلي  adapun arti  الصلاة menurut bahasa adalah doa bil khairi berdarkan firman Allah وصلي عليهم sedangkan secara istilah adalah serangkaian perkataan, perbuatan yang mulai dengan takbir dan ditutup dengan salam.

Shalat adalah salah satu rukun Islam, selain itu shalat juga seafdhal afdal fardhu, adapun shalat sunat adalah sefdhal afdhalnya sunat, dan seseorang selama masih berakal tiada uzur baginya untuk kemudian meninggalkan shalat wajib.Selain itu Shalat juga satu satunya kewajiban yang diterima perintahnya dengan cara yang istimewa yaiti lewat Isra Mi'raj Nabi SAW sebagaimana dalam Hadist Bukhari dan Muslim :

 

فرض الله على امتي ليلة خمسين صلاة فلم ازل راجعه و اسلله التخفيف حتى فعلها خمسا فى كل يوم وليلة

Allah mewajibkan kepada umatku pada malam isra lima puluh waktu shalat maka senantiasa aku kembali dan aku minta kepada-Nya keringanan sehingga mereka mengerjakan sehari semalam lima waktu”

Kewajiban shalat lima waktu yang diterima langsung oleh Rasulullah adalah himpunan dari shalat shalat Nabi sebelumnya. Berikut ini adalah komentar Imam Rafi'i didalam Syarah Musnad:

 

ان الصبح كانت الصلاة ادم والظهر كلنت الصلاة داود و العصر كانت الصلاة سليمن و المغرب كانت اصلاة يعقب و العشاء كانت الصلاة يننس

 “Sesungguhnya subuh adalah shalat Nabi Adam, zuhur adalah shalat Nabi Daud, Ashar adalah shalat Nabi Sulaiman, dan Magrib adalah shalat Nabi Ya'qub sedangkan Isya adalah adalah shalat Nabi Yunus.Seluruh shalat itu dihimpun kepada Rasulullah karena memuliakan baginda SAW dan umatnya agar memperoleh pahala yang banyak”.

Baca Juga: Latar Belakang Tersusunnya Kitab Al-Itqan

Keistimewaan Shalat tentunya mengandung banyak sekali fadilah bagi siapa saja yang istiqamah dalam melaksanakannya. Shalat lima waktu layaknya air yang mengalir di depan rumah yang setiap hari empunya rumah mandi disana, maka adakah tersisa kotoran ditubuh orang tersebut ?[12] Selain itu shalat juga satu ibadah yang dijanjikan surga oleh Allah, dalam satu Hadist Nabi SAW bersabda :

 

خمس صلوات كتبهن الله على العبد فمن جاء بهن فلم يضيع منهن شيا استخفافا بحقهن كان له عهد عند الله ان يدخل الجنة و من لم يئات بهن فليس له عند الله عهد ان شاء عذبه و ان شاء ادخل الجنة

Shalat lima waktu sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah maka barang siapa yang melaksanakannya dengan penuh kerelaan dan keringanan, Allah menjanjikan surga untuknya, dan siapa saja yang tidak mengerjakan Shalat, jika Allah berkehendak, Dia akan mengazab orang tersebut dan jika Allah berkehendak, Dia akan memasukkannya kedalam surga  [13]

Shalat merupakan juga pencegah perbuatan keji dan mungkar, Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut 45 :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Muadhabah (continue) dalam shalat dengan memerhatikan segala rukun, syarat dan adab adab di dalam shalat menjadikan shalat itu pencegah bagi seorang muslim melakukan keji dan mungkar, maka jika di zaman sekarang banyak sekali terjadi kemungkaran bisa dipastikan salah satu sebabnya adalah sedikitnya sujud mereka kepada Allah SWT.

Orang yang bemuadhabah dalam asyiknya rukuk sujud kepada Allah akan senantiasa sadar bahwa dia akan meniggalkan dunia dengan segala isinya dan hanya amal salih yang menjadi teman terbaik dikala masa itu tiba dan dia juga akan mengambil hikmah dari waktu waktu shalat karena waktu waktu itu umpama fase kehidupan sebagaimana mana waktu subuh terbit matahari adalah perumpamaan seorang bayi, dzuhur saat matahari di puncaknya dan mencurahkan cahaya untuk masuk ke seluruh tempat adalah tamsilan masa muda yang semua hasrat bisa diperoleh demikian waktu ashar, magrib isya adalah waktu dimana matahari itu terbenam yang mengandung hikmah bahwa manusia seperti sang surya yang akan sirna menuju sebuah kematian. Setiap sesuatu yang pernah hidup maka dia akan mati []

Lebih Menarik Lagi: Belajar Dari Keikhlasan dan Kekhusyuan Do’a Nabi Ibrahim

 Oleh : Rizky AR

 

 

 

 



Posting Komentar

0 Komentar