Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SHALAT TAQWIYATUL HIFIDZ, AMALIAH WAJIB PARA PENGHAFAL

 

SHALAT TAQWIYATUL HIFIDZ, AMALIAH WAJIB PARA PENGHAFAL



Kecerdasan dan kuatnya hafalan merupakan faktor penting pendukung lancarnya proses pendidikan dayah. Kecerdasan yang minim atau hafalan yang lemah menjadi kendala menerima pendidikan dayah. Kemampuan mengingat yang baik tentunya akan sangat mendukung seseorang dalam menghafal dan memahami ilmu-ilmu yang sedang dipelajari. Namun seiring pertambahan usia, tidak menutup kemungkinan terjadinya penurunan daya ingat seseorang. Kemampuan berfikir pun juga akan melemah.

 

Sebenarnya tidak ada batasan usia tertentu untuk memulai menghafal, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa usia seseorang memang berpengaruh terhadap keberhasilan menghafal. Seorang penghafal yang masih muda jelas akan lebih potensial daya serapnya terhadap materi-materi yang dibaca atau didengarkannya, dibanding dengan mereka yang berusia lanjut, meskipun tidak bersifat mutlak. Sebagaimana hadits Nabi dari Ibnu Abbas r.a Rasulullah SAW bersabda.

 

حفظ الغلام الصغير كلنقش في الحجر وحفظ الرجل بعد ما يكبر كالكتاب على الماء.

Artinya: “ Hafalan anak kecil bagaikan ukiran di atas batu, dan hafalan sesudah dewasa bagaikan menulis di atas air.”

 

Untuk mencapai kompetensi seorang santri agar dapat menguasai sejumlah materi yang dibebankan dalam mata pelajaran yang menjadi kurikulum dalam pendidikan dayah atau pesantren, dayah akan menerapkan metode yang tepat agar siswa benar-benar dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan. Pemberian tugas untuk menghafal setiap materi pelajaran seperti Al-‘Awamil, Al-Ajrumiyah, hingga bait Alfiyah adalah salah satu metode yang dilakukan dayah untuk mempercepat penguasaan materi, termasuk yang dilakukan oleh sejumlah guru yang mengampu di setiap dayah dan pondok pesantren seluruh dunia.

 

Ada banyak hal yang menjadi penyebab seseorang menjadi lupa, mulai dari pola hidup yang tidak sehat, stress, memikirkan banyak hal sekaligus, depresi atau asupan nutrisi yang tidak cukup. Santri pun akan sangat rentan lupa, karena kurang memperhatikan pola hidup sehat semasa belajar didalam dayah. Bahkan seorang santri sangat dituntut menjaga kualitas sikap dan ketaqwaannya kepada Allah saat belajar ilmu di dayah.  Seorang santri tidak hanya dituntut untuk menjauhi maksiat hanya karena melihat dari sisi larangan dan dosa, tapi juga menjauhinya karena akan mempengaruhi kepada kuatnya hafalan seorang santri. Bahkan dalam pepatah Aceh dikatakan “manoek han ditameng u dalam uempueng, meunyo na ceurape di dalam” ayam tidak akan masuk kedalam kandang jika ada biawak didalamnya. Ini senada dengan apa yang dialami oleh Imam Syafii yang sangat terkenal kealimannya hingga beliau mengadu kepada gurunya Imam Waqi’.

 

شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي *فَأرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ المعَاصي*وَأخْبَرَنِي بأَنَّ العِلْمَ نُورٌ*ونورُ الله لا يهدى لعاصي

“Saya mengadu kepada waqi’ (guru beliau) mengenai buruknya hafalanku, maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat”. (Imam al-Syafi’i)

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَبُو مُصْعَبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ سَعِيدٍ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ؟ قَالَ: «ابْسُطْ رِدَاءَكَ» فَبَسَطْتُهُ، قَالَ: فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «ضُمَّهُ» فَضَمَمْتُهُ، فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ. حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ المُنْذِرِ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ بِهَذَا أَوْ قَالَ: غَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ

Sahabat Abu Hurairah r.a pernah mengadu kepada Rasulullah SAW. mengeluhkan hafalannya. “Ya Rasulullah, aku mendengar banyak hadits darimu dan aku melupakannya,” ujarnya. Beliau lalu memerintahkan Abu Hurairah membentangkan selendang. Selendang itu lalu diraba oleh Rasulullah dengan kedua tangan beliau. “Rengkuhlah selendang itu,” perintah beliau lebih lanjut. Abu Hurairah kemudian merengkuhkan selendang itu ke dadanya. Setelah itu dia tidak pernah lupa terhadap hadits yang diterimanya sama sekali. (Shahih Bukhari hadist ke 119)

 

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَفِي هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ فَضِيلَةٌ ظَاهِرَةٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ وَمُعْجِزَةٌ وَاضِحَةٌ مِنْ عَلَامَاتِ النُّبُوَّةِ لِأَنَّ النِّسْيَانَ مِنْ لَوَازِمِ الْإِنْسَانِ وَقَدِ اعْتَرَفَ أَبُو هُرَيْرَةَ بِأَنَّهُ كَانَ يُكْثِرُ مِنْهُ ثُمَّ تَخَلَّفَ عَنْهُ بِبَرَكَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Dalam dua hadits ini terdapat keutamaan nyata yang ada pada diri Abu Hurairah, serta mu’jizat yang jelas dari tanda-tanda kenabian. Hal itu dikarenakan, sifat lupa adalah sesuatu yang biasa terjadi pada diri manusia. Abu Hurairah sendiri mengakui bahwa dirinya dulu mempunyai banyak sifat lupa, kemudian hal ini hilang dikarenakan barakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”

 

Kemudian beliau (Ibnu Hajar) melanjutkan:

وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ لِلْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ كُنْتُ أَنَا وَأَبُو هُرَيْرَةَ وَآخَرُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ادْعُوَا فَدَعَوْتُ أَنَا وَصَاحِبِي وَأَمَّنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ دَعَا أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِثْلَ مَا سَأَلَكَ صَاحِبَايَ وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لَا يُنْسَى فَأَمَّنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ سَبَقَكُمَا الْغُلَامُ الدَّوْسِيُّ ".

“Dan dalam Al-Mustadrak karangan Al-Haakim dari hadits Zaid bin Tsaabit ia berkata : Aku, Abu Hurairah, dan seorang yang lain pernah berada di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : ‘Berdoalah kalian’. Aku dan temanku pun berdoa, sementara Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaminkannya. Kemudian Abu Hurairah berdoa : ‘Ya Allah, sesunguhnya aku memohon kepada-Mu semisal apa yang dimohonkan oleh dua orang shahabatku ini. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak pernah aku lupakan’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaminkannya. Kami pun berkata : ‘Dan kami pun memohon seperti itu juga wahai Rasulullah’. Beliau menjawab : ‘Anak dari suku Daus itu telah mendahului kalian berdua”.

 

Usaha-usaha untuk meningkatkan daya kecerdasan dan hafalan baik secara fisik, mental, maupun spiritual ternyata telah dilakukan oleh orang-orang saleh terdahulu dan berhasil. Abu Hurairah dengan usahanya berkonsultasi kepada Rasulullah saw. dia menjadi terdepan dalam menghafal hadits di jajaran para sahabat. Dengan demikian, usaha untuk meningkatkan daya kecerdasan dan kekuatan hafalan adalah suatu keniscayaan, karena manusia dalam hal ini berbeda-beda tingkatannya. Ada yang tingkat hafalannya kuat, sedang, dan ada yang lemah. Rasulullah saw. pernah memberitahu cara meningkatkan daya kecerdasan dan hafalan, yaitu melalui shalat yang disebut dengan shalat Taqwiyatul Hifidz (Shalat untuk memperkuat hafalan)

 

Shalat Hifidz merupakan salah satu amalan shalat sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk membantu meningkatkan kemampuan fungsional otak berkaitan dengan proses mengingat, yang tentunya dapat meningkatkan kemampuan intelegensi seseorang. Shalat Hifidz berjumlah 4 rakaat dan dilaksanakan pada 1/3 malam yang akhir di setiap malam jum’at. Shalat Hifidz dilaksanakan sebanyak 3, 5, 7 kali malam jum’at (sesuai dengan kemampuan masing-masing). Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadist:

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِىُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِى رَبَاحٍ وَعِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ جَاءَهُ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ فَقَالَ بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى تَفَلَّتَ هَذَا الْقُرْآنُ مِنْ صَدْرِى فَمَا أَجِدُنِى أَقْدِرُ عَلَيْهِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا أَبَا الْحَسَنِ أَفَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ وَيَنْفَعُ بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَ فِى صَدْرِكَ ». قَالَ أَجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَعَلِّمْنِى.َقالَ « إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَقُومَ فِى ثُلُثِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُودَةٌ وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ وَقَدْ قَالَ أَخِى يَعْقُوبُ لِبَنِيهِ (سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّى) يَقُولُ حَتَّى تَأْتِىَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِى وَسَطِهَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِى أَوَّلِهَا فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةِ يس َفِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَ( حم) الدُّخَانَ وَفِى الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالم َنْزِيلُ السَّجْدَةَ وَفِى الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَتَبَارَكَ الْمُفَصَّلَ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ التَّشَهُّدِ فَاحْمَدِ اللَّهَ وَأَحْسِنِ الثَّنَاءَ عَلَى اللَّهِ وَصَلِّ عَلَىَّ وَأَحْسِنْ وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ وَاسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلإِخْوَانِكَ الَّذِينَ سَبَقُوكَ بِالإِيمَانِ ثُمَّ قُلْ فِى آخِرِ ذَلِكَ.

Sahabat Abdullah bin Abbas menceritakan bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib pernah mengeluh kepada Rasulullah saw. atas hafalannya yang lemah. Beliau lalu bersabda, “Wahai Ali, maukah engkau aku ajari doa, mudah-mudahan dengan itu Allah swt. memberimu dan anak didikmu manfaat? Juga hafalanmu menjadi kuat?” “Tentu, ya Rasulullah, Ajarilah aku,” jawab Ali senang. Rasulullah saw. lalu bersabda, “jika kamu sanggup bangun pada 1/3 malam yang akhir, maka waktu tersebut adalah waktu dimana Allah akan melihat hambanya dan doa pada waktu tersbut akan dikabulkan, Bahkan saudaraku Ya’qub berkata kepada putranya ; “Aku akan memintakan ampun kalian pada tuhanku”, ia berkata (demikian) sampai datanglah malam jumat. Jika kamu tidak mampu maka (bangunlah) pada tengah malamnya, jika kau tidak mampu juga maka pada 1/3 malam yang awal, kemudian shalatlah empat raka’at, pada rakaat pertama bacalah surat al-Faatihah dan surah Yaasin. Pada rakaat kedua kamu baca Haa Miim, ad-Dukhan, setelah membaca, al-Faatihah dan Alif Laam Miim Tanzil, as-Sajdah. Kemudian pada rakaat keempat surah al-Faatihah dan surat Tabarak. Jika tasyahud telah selesai, sampaikan pujian kepada Allah swt., lalu bershalawatlah atasku dan keatas para nabi, kemudian mintakanlah ampunan bagi orang-orang yang beriman dan orang orang saudara-saudaramu yang telah mendahului kamu dengan iman.”

 

Beliau melanjutkan, “Setelah itu, wahai Ali, bacalah doa berikut ini :

 

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِي فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Ya Allah Tuhanku, rahmatilah aku agar dapat meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan sepanjang hidupku. Rahmatilah aku dari usaha habis-habisan yang tidak berguna bagiku. Karuniakanlah aku kemampuan yang baik dalam memandang perkara yang membuat Engkau ridha kepadanya. Wahai Zat Yang Maha Mencipta langit dan bumi, wahai Zat Yang memiliki kegungan, kemuliaan, dan kejayaan yang tidak akan punah. Ya Allah, ya Rahman, dengan segenap kegungan-Mu dan kecemerlangam Zat-Mu, aku memohon engkau menetapkan hatiku di dalam menghafal Kitab Suci-Mu sebagaimana Engkau mendidikku. Karuniakanah aku kemampuan membacanya di atas jalan yang Engkau ridha kepadanya. Dengan perantaraan Kitab Suci-Mu, aku memohon, Engkau menerangi pandanganku, Engkau berikan kelancaran dan kefasihan lisanku, Engkau buka hatiku, Engkau lapangkan dadaku, Engkau gerakkan badanku, dan Engkau berikan kekuatan dan pertolongan atas semua itu. Sesungguhnya tidak ada yang memberikan pertolongan atas kebaikan itu selain Engkau. Dan tidak ada daya kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah swt. semata, Zat Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.”

 

Beliau bersabda melanjutkan,

يَا أَبَا الْحَسَنِ تَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ أَوْ خَمْسَ أَوْ سَبْعَ تُجَابُ بِإِذْنِ اللَّهِ وَالَّذِى بَعَثَنِى بِالْحَقِّ مَا أَخْطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ

“Wahai Ali, lakukanlah shalat ini tiga kali, lima kali, atau tujuh kali, niscaya dengan izin Allah dikabulkan. Sesungguhnya doa ini tidak akan menyalahi orang yang beriman sama sekali (yakni pasti dikabulkan).”

 

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ فَوَاللَّهِ مَا لَبِثَ عَلِىٌّ إِلاَّ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ عَلِىٌّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ فِيمَا خَلاَ لاَ آخُذُ إِلاَّ أَرْبَعَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ وَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِى تَفَلَّتْنَ وَأَنَا أَتَعَلَّمُ الْيَوْمَ أَرْبَعِينَ آيَةً أَوْ نَحْوَهَا وَإِذَا قَرَأْتُهَا عَلَى نَفْسِى فَكَأَنَّمَا كِتَابُ اللَّهِ بَيْنَ عَيْنَىَّ وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الْحَدِيثَ فَإِذَا رَدَّدْتُهُ تَفَلَّتَ وَأَنَا الْيَوْمَ أَسْمَعُ الأَحَادِيثَ فَإِذَا تَحَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا حَرْفًا

Abdullah berkata ; “maka demi Allah Ali tidak terlihat sampai lima atau tuju Jum'at sehingga ia datang pada Rasulullah dalam majlis yang sama lalu berkata ; “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku dahulu tidak mengambil (menghapal) kecuali empat ayat atau semisalnya, dan ketika aku membacakannya pada diriku ia terlepas. Dan sekarang aku mempelajari 40 ayat dan semisalnya lalu ketika aku membacakannya pada diriku maka seolah-olah kitab Allah ada dihadapan kedua mataku, dan dulu aku mendengarkan hadist lalu ketika aku mengulanginya, ia terlepas. Dan sekarang aku mendengar banyak hadist lalu ketika kau berucap dengannya, aku tidak mengurangi darinya suatu apapun. Maka Rasulullah berkata kepadanya ketika itu ; “Engkau seorang mukmin, Demi pemilik Ka’bah! wahai Abal Hasan! (Hadist Riwayat Turmudzi, beliau berpendapat hadist ini hasan lagi gharib, dan juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, beliau mentashihkan hadist ini)

 

Dalam kitab “Syaraful Ummah Al Muhammadiyah” karya Abuya As-Sayyid Muhammad Ibn Alawy Al-Maliky disebutkan; “Dan telah terdapat percobaan yang menguatkan apa yang telah saya sebutkan. AL-Hafidz Abul Hasan ibn Iraq berkata ; “Dan lebih dari satu orang memberitahu aku bahwa mereka telah mencoba berdo`a dengannya dan menemukan bahwa hal ini memang benar”.


TATA CARA SHALAT TAQWIYATUL HIFIDZ SECARA RINGKAS:

     Dilakukan pada 1/3 akhir malam jum`at, atau 1/3 pada pertengahan atau 1/3 yang awalnya namun yang terbaik adalah akhirnya

     Dilakukan dengan empat rakaat satu salaman tanpa tasyahud awal atau satu salaman dengan tasyahud awal atau dua salaman, dengan niat shalat sunnah muthlak.

     Rakaat pertama, membaca Fatihah dan surat Yasin,

     Rakaat kedua Fatihah dan surat ad-Dukhan,

     Rakaat ketiga membaca Fatihah dan surat as-Sajdah,

     Rakaat keempat membaca Fatihah dan surat al-Mulk.

     Jika belum hapal bisa dilakukan dengan memegang mushaf lalu membacanya atau jika tidak mampu bisa diganti dengan surat-suratan pendek (semampunya).

     Setelah Tasyahud, dalam ini terdapat dua kemungkinan terhadap maksud perkataan Nabi ” Lalu ketika kau telah selesai dari Tasyahhud” ; yang pertama sesudah membaca tasyahud tapi sebelum salam, yang kedua sesudah salam.

     Membaca hamdalah dan bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw dan juga nabi-nabi yang lain, lalu memintakan ampunan bagi mukminin dan mukminat dan juga bagi saudara-saudara yang telah mendahului kita.

     Setelah itu membaca do`a khusus yang telah disebutkan diatas, ditambah doa apa saja yang diinginkan dan semampunya.

 

Namun dari rangkaian ibadah ini, hal yang paling pending diperhatikan oleh seorang santri adalah menjaga diri dari maksiat lahir batin, menjaga adab hafalan, mematuhi sistem guru dan ketika muraja'ah mengamalkan setiap amal yang diajarkan didalam Ta’lim Muta'allim, yaitu:[viii]

 

وأقوى أسباب الحفظ : الجد والماظبة وتقليل الغذاء وصلاة الليل , وقراءة القرآن من اسباب الحفظ , قيل : ليس شيء أزيد للحفظ من قراءة القرآن نظرا .

Dan adapun sebab-sebab yang paling utama untuk kuat hafalan ialah bersungguh-sungguh, ulet, tidak banyak makan, dan shalat malam. Adapun membaca al-Qur’an, termasuk penyebab kuat hafalan. Ada Ulama’ yang berkata : tidak ada sesuatupun yang lebih menambah kuatnya hafalan dari pada membaca al-Qur’an sambil melihat al-Qur’an

 

Dan yang tidak kalah penting untuk diperhatikan agar hafalan itu benar-benar kuat dan lengket diotak ialah sering mengulang-ngulang menghafalnya. Pepatah Arab mengatakan :

 

التكرار يفيد القرار

" mengulang-ulang itu dapat menjadikan kuat hafalan"

Sumber :

Abuya As-Sayyid Muhammad Ibn Alawy Al-Maliky, Syaraful Ummah Al Muhammadiyah, (Dar al-Jawami’ al-Kalim, 2007)



Posting Komentar

0 Komentar