Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Urgensi Transfer Of Spiritual Dalam Dunia Tarbiyah


 

Aby Mudi

majalahumdah.com - Dalam Islam seseorang di wajibkan untuk menuntut ilmu dan merupakan hal  yang sangat urgen dan merupakan urat nadi dalam pengembangan dakwah dan syariat Islam di dunia ini. Namun di balik itu salah satu persoalan harus di perhatikan oleh seorang thalib (pelajar) pertama kali nya sebelum me­langkah untuk menuntut ilmu hendaknya berusaha selalu mengikhlaskan niat. Kitapun mengetahui tentang keberadaan niat merupakan perkara dan persoalan awal dalam memulai setiap pekerjaan termasuk menuntut ilmu. Hal sebagaimana dijelaskan dalam hadis “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana dia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadis)

 

Seorang penuntut ilmu juga harus menjaga adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap guru maupun ahli ilmu. Demikian pentingnya kedudukan adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal-hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah-sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) ha-hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal-hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.” Dalam pemahaman perkataan di atas sangat pentingnya adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Di samping juga mereka yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih dia perlukan daripada ilmunya yang banyak yang tidak disertai adab. pemahamannya bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.

Baca Juga: Karamah Sang Pemimpin Wali Tarim


Pada satu waktu, Imam Syafi’i pernah menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, “Wahai Muhammad (nama Imam Syafi’i), jadikanlah ilmu engkau bagus dan adab engkau halus”. Berdasarkan perkataan tersebut, dipahami bahwa apabila ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, integrasi ilmu dan adab memang  harus dimiliki, dan  tidak boleh dipilih ilmu saja  tanpa adab dan etika begitu juga sebaliknya. Melihat fenomena ini sangat patut di apresiasi pesan sebagaimana dituangkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, bunyinya “Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang  dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu’, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik.”

 

Dalam literature turast klasik sangat banyak kisah adab dan etika para ulama salaf saat menuntut ilmu dan juga butiran mutiara hikmah yang dapat kita petik pelajaran (ibrah). Tentunya yang terfokus kepada adap dan etika serta sopan santun terhadap ilmu dan  guru serta ahli ilmu itu sendiri. Dihikayatkan pada suatu saat Abu Yazid Al-Busthami, seorang tokoh sufi terkemuka di dunia, bermaksud mengunjungi seorang laki-laki yang dikatakan memilki kebaikan. Maka dia pun menunggunya di sebuah masjid. Orang yang ditunggu itu pun keluar, kemudian meludah di masjid, tepatnya di dinding sebelah luar. Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Beliau mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.” Kisah di atas sangat menganjurkan kepada para penuntut ilmu untuk menjaga adab dan etika dan Sebelum memperhatikan perincian adab yang mesti dijaga saat menuntut ilmu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya. Hal ini sebutkan oleh  Imam An-Nawawi dalam mukadimah Syarh Muhadzdzab, salah satu karyanya yang sangat populer di dunia pesantren, berbunyi , “Semestinya seorang pelajar membersihkan hatinya dari kotoran agar layak untuk menerima ilmu, menghafalnya, dan mendapatkan buahnya.”

 

Beranjak dari uraian diatas, fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan dan masyarakat seolah-olah menuntut ilmu manakala diuraikan sekitar permasalahan adab, menghormati  dan memuliakan guru, seolah itu hanya untuk “khusus” di dunia dayah (baca: belajar ilmu agama), padahal persoalan itu berlaku disemua jenjang, strata dan lembaga pendidikan serta tidak terkhusus dayah saja. Para penuntut ilmu yang mampu mengaplikasikan anjuran untuk menghormati dan memuliakan guru serta hal lain yang berkaitan dengannya baik di sekolah, dayah, perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan lainnya tentu saja keberkahan ilmu dan ridha Allah SWT akan menjemput mereka juga sebaliknya. Ada juga sebagian penunutut ilmu yang masih berasumsi yang layak di hormati itu hanya guru dayah (baca: guru pengajian agama) sedangkan guru sekolah atau dosen “boleh-boleh” saja tidak di hormati karena tidak “teumerka” (binasa).

Jelas ini persepsi yang keliru dan harus di luruskan oleh muallim (guru) sehingga para penuntut ilmu tidak salah kaprah dan tidak wariskan kepada generasi selanjutnya.

 

Esensi guru itu sama baik di lembaga sekolah, dayah maupun perguruan tinggi, kewajiban kita sebagai penuntut ilmu untuk menghormati sang muallim (guru). Apabila kita telusuri bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh saidina Ali bin Abi Thalib RA yang pernah menyebutkan, "Siapa yang pernah mengajari saya satu huruf saja, maka saya siap menjadi budaknya." Jelaslah pelajaran yang dapat dipetik dari perkataan saidina Ali tersebut, sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang muallim, kita berkewajiban menghormati dan tidak boleh meremehkannya. Dalam kisah lain di sebutkan Imam Syafi’i pernah membuat suasana jamaah terkagum-kagum, beliau spontan saja mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Lantas yang melihatnya merasa heran dan akhirnya sahabat bertanya, "kenapa seorang imam besar rela mencium tangan seorang laki-laki tua? Seharusnya masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada sosok lelaki tua itu?" Imam Syafi’i menjawab, "Pada masa dulu saya pernah menanyakan kepada beliau, bagaimana mengetahui seekor anjing berusia baligh? Lantas orang tua tersebut menjawab, "apabila engkau melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, menandakan dia telah baligh”. Dua kisah diatas menunjukkan sikap menghormati dan menghargai ilmu dan ahlinya siapapun dia.



Baca Juga: Mengenal Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

Disini terlihat  akan membedakan dunia pendidikan itu bukan hanya transfer ilmu saja (Transfer of knowledge) namun  juga memberikan pengaruh rohaniah baik etika, keadabadan serta tauladan yang baik (transfer of spiritual) terhadap thalibul ilmi. Namun apabila kedua unsur ini baik transfer of spiritual maupun Transfer of knowledge berhasil di integrasikan dan realisasikan di lembaga pendidikan kita, tentunya wajah dunia tarbiyah kita akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menjawab tantangan zaman era globalisasi ini di saat degradasi moral, akhlak dan etika generasi penerus bangsa ini semakin bobrok dan memprihatinkan menuju perbaikan dan kebaikan demi hari esok yang cerah dan lebih baik. Semoga….!!!

 



Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, Aceh dan Dayah Putri Muslimat Samalanga

 

Posting Komentar

0 Komentar