Life Style

5/cate1/Life Style

Tafakkur

6/cate3/tafakkur

Motivasi

5/cate4/Motivasi

agama

5/cate5/agama

Recent post

Imam Al-Kisa’i Berdebat Dengan Ahli Fiqh






من تبحر في علم  تبجر في سإىر العلم
Majalahumdah.com Begitulah sahabat kata pepatah yang ribut kita dengar, sehingga seorang ahli nahwu dengan kaidahnya nahwunya mampu menjelajahi ilmu yang lain. Fikih misalnya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah muzakarah Imam Kasai seorang ahli Nahwu dengan Abu Yusuf seorang fakih.
Imam As-Suyuti mengkisahkan. Pada suatu ketika Abu Yusuf menemui Khalifah Harun Ar Rasyid dan bersama raja ada Imam Kasai. Kemudian terjadi perbincangan diantara mereka.

Abu Yusuf berkata : “ Jika engkau belajar ilmu fikih maka itu lebih mulia bagi anda”
Imam Kasai menjawab “ wahai Abu Yusuf , bagaimana pendapat anda terkait seorang lelaki yang mengakui padanya terdapat hak orang lain dengan lafad  
"على مائة درهم الا عشرة دراهم الا درهما واحد"
“Berapakah yang wajib diatas lelaki tersebut ? “ Abu yusuf Menjawab “89 Dirham” Imam Al-Kisa’i berjata “Anda salah” dengan penuh keheranan Abu Yusuf Bertanya”kenapa Saya salah” Imam Al-kisa’i menjawab “ kerna Allah berfirman:

قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُجْرِمِينَ (58) إِلا آلَ لُوطٍ إِنَّا لَمُنَجُّوهُمْ أَجْمَعِينَ (59) إِلا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ (60)

"Bahwa sesungguh nya kami, diutus kepada kaum yang berdosa(58), kecuali Lut beserta pengikut-pengikut Luth . Sesungguhnya kami  menyelamatkan mereka semuanya,(59) kecuali istrinya. Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)(60).”{AlHijr:58-60}. Menurut Anda kalimat امْرَأَتَهُ  yang ada dalam ayat  tersebut diistisna’kan dari  آلَ atau قَوْمٍ ?"

Abu Yusuf menjawab “diistisna’kan dari  آلَImam Al-Kisa’i  lanjut bertanya “kalau begitu berapakah yang wajib di ats laki-laki tersebut dari iqrarnya?” Abu Yusuf Menjawab”91 Dirham”
Jadi dapat kita ambil pelajaran dari kisah diatas Marilah kita perdalam ilmu yang kita pelajari semoga dengannya kita bisa mendapat ilmi yang lain. Amiin.



(Oleh : Ibnu Budiman MA S:4 U:1)

Mukhtasar Muzani, Hadiah Untuk Pengantin Baru



Majalahumdah.com Abu Syamah Al-Maqdisi (599-665H) menulis satu bab dalam karyanya terkait kepedulian penganut mazhab Syafi’i terhadap kitab Mukhtasar Al-Muzani dan sanjungan atasnya.
Berikut kurang lebih terjemahannya,

Para Ulama dari Ashab terdahulu memberikan perhatian kepada kitab Mukhtasar Muzani. Dengan sebab kitab ini, mudah mentashihkan mazhab syafi’i kepada pelajarnya pada waktu itu. Ada banyak pelajar dari jauh yang belajar langsung pada Imam Muzani. Mereka rela melakukan perjalanan karena beliau. 


Salinan ulang kitab ini menyebar ke banyak negeri. Sehingga sampai berita padaku ada seorang wanita yang menyiapkan hadiah pengantin kepada suaminya berupa mushaf Alquran dan naskhah kitab Mukhtasar Al-Muzani.

Diriwayatkan Imam Muzani berkata : "Aku bertahan dalam menyusun Mukhtasar ini selama 16 tahun. Tidak pernah Aku tunaikan shalat fardhu dan shalat sunat kecuali aku barengi dengan doa agar diberikan keberkahan bagi siapa saja yang mempelajari kitab ini dan berusaha memahaminya."


Tugu Lambang Keberanian Bireuan


C:\Users\elbarackcomp\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190712-WA0018.jpg

Majalahumdah.com. Pertama kali saya mendengar tentang cerita orang Aceh berperang dengan Jepang dari cerita ayah saya , “Krueng Panjoe nyan tempat ureung tanyoe poh ureung Jepang yoh masa awai.”(Krueng Panjoe merupakan tempat dimana dulunya rakyat Aceh membunuh serdadu Jepang). Ya, dulunya Krueng Panjoe merupakan tempat terjadinya peperangan antara orang aceh dengan serdadu Jepang dan tempat itupun menjadi sebuah kenangan pahit bagi Jepang, karena di tempat tersebut  mereka memperoleh kekalahan dalam melawan pejuang Aceh yang kala itu begitu berani dan cekatan dalam mempertahankan tanah kelahirannya. 
Untuk  mengenang peristiwa besar tersebut, di tempat itu sekarang telah dibangun sebuah tugu berbentuk bambu runcing sebagai bukti atau lambang keberanian bangsa Aceh, dan juga tertuliskan deretan nama para pejuang handal yang ikut andil dalam perjuangan tersebut seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap yang juga pendiri Almuslim sebagai cikal bakal berdirinya salah satu Universitas Swasta terbesar di Aceh saat ini yakni Universitas Almuslim.
Selanjutnya, tugu yang terkesan jarang dikunjungi itu juga dicantumkan nama sejumlah pimpinan lainnya yang ikut dalam pertempuran. Mereka adalah Tgk. Ismail. AR, Tgk. H. Mohd Thahir Mahmud, T. Usman Hamid, Tgk. Ibrahim Arifin, Sayed Umar. A. Wahab, Syahkubad Mahmud, M. Abidin Amin, T. Puteh Arifin, Tgk. Pang Ali dan Syeh Muhammad Insya.
Masih di tugu tersebut, ada juga nama pahlawan yang syahid di medan perang seperti Mandor Basyah, Tgk. H. Cut Ben, Tgk. H. Krueng, Yakob Ibrahim, Yahya Umar, Tgk. Husin Karim.
Teringat pertama sekali saya melihat tugu itu waktu masi kecil, dulu ketika bermain bersama kawan, ketika melihat bangunan yang kokoh berdiri disamping sebuah lapangan olahraga yang dikelilingi oleh persawahan hati bertanya-tanya “pu nyoe lage buloh cincu”(benda apa ini mirip seperti bambu runcing), hal tersebut selalu terbayang di pikiran, sesampainya dirumah saya langsung bertanya sama ayah namanya Zakaria Hanafiah, kebetulan ayah adalah pecinta sejarah, Kata ayah “Itu adalah Tugu yang didirikan untuk mengenang pertempuran pejuang kita melawan Jepang” dan dari situlah dimulainya cerita ini, beliau langsung bercerita panjang lebar tentang sejarah tersebut.
Perang di Krung Panjoe terjadi pada 24 - 26 November 1945. Hasil pertempuran tiga hari berturut-turut itu, para pejuang Aceh berhasil membuat satu batalyon tentara Jepang-yang ingin merebut kembali kota Bireuen-bertekuk lutut. Pejuang Aceh kala itu gencar melucuti senjata pasukan Jepang. 
Tentara Jepang yang sudah berkemas terkonsentrasi di Lhokseumawe dikonsolidasikan menjadi satu batalyon tempur. Mereka diperintahkan untuk menduduki kembali Kota Bireuen dan tempat-tempat strategis lainnya untuk merampas kembali senjata yang sudah jatuh ke tangan rakyat. Sementara di kalangan pemuda pejuang Aceh, pemburuan senjata Jepang terus dilakukan, ini pekerjaan nekad. Disamping keberanian, juga dibutuhkan trik-trik yang jitu. Keberanian saja tidak cukup. Ada satu hal yang sangat mengesankan. Para pejuang dan pemuda kita(Aceh) kala itu tampaknya berlomba-lomba menyodorkan diri atau berebut ingin diberi tugas oleh pimpinan untuk merebut senjata Jepang di asrama bahkan digudangnya sekalipun. Saat itu muncul jargon “Tentra Jepang jeut di bet langkah dari Aceh tapi meusineuk aneuk bude bek ipeutibit”(Serdadu Jepang boleh enyah dari Aceh, tapi senjatanya satu pelor pun tidak boleh berpindah tempat). 
Tidak dapat di pungkiri terhadap semangat juang yang terpancar dari pemuda Aceh, karena sejak dulu rakyat Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam,seperti  Hikayat Prang Sabi, yang merupakan salah satu karya monumental seorang ulama sekaligus pejuang Aceh yakni Tgk Chik Pante Kulu, Hikayat Prang Sabi merupakan syair kepahlawanan yang membentuk irama dan nada yang sangat heroik, mampu mendorong semangat jihad bagi pejuang Aceh. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak Aceh, baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil dari masa ke masa dalam sejarah Aceh sepanjang abad. Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam membakar semangat perjuangan rakyat Aceh.
Berbagai upaya dilakukan oleh pemuda dan pejuang Aceh untuk menerobos, menguasai alat persenjataan jepang dari sarang-sarangnya. Di daerah Bireuen  terdapat gudang persenjataan milik Jepang untuk menyuplai kebutuhan perang, tepatnya di Tepin Mane di pinggiran kota Bireuen menuju arah jalan ke Takengon. Di Cot Gapu juga terdapat lapangan terbang darurat yang sebelumnya dijadikan resimen induk Jepang yang memasok kebutuhan logistik militernya. Di sana waktu itu masih tersimpan logistik dan senjata Jepang termasuk tank yang onderdilnya sudah dipreteli. Malah dari sekian banyak tank di situ, delapan diantaranya masih bisa difungsikan setelah diperbaiki oleh montir M. Yusuf Ahmad. 
C:\Users\DELL\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\habadaily-in-c72DG1sdk5-Tugu Krueng Panjoe.jpg
Rencana pergerakan tentara Jepang yang bertolak dari kota Lhokseumawe telah lebih dulu diketahui oleh para pejuang Aceh yang berada di Bireuen, dengan segala persiapan dilakukan termasuk membentuk sebuah pasukan komando yang menghimpun pasukan API(Angkatan Pemuda Indonesia)/TKR(Tentara Keamanan Rakyat) dibawan pimpinan kapten T. Hamzah. Selain itu Pasukan rakyat juga di ikut sertakan, terdiri dari beberapa barisan yakni barisan Juli pimpinan keuchik Ibrahim, barisan Samalanga pimpinan Tgk. Syahbudin, barisan Jeunib pimpinan Peutua Ali, barisan Gurugok pimpinan Tgk. Zamzami, Barisan Peusangan pimpinan T. M. Hasan Alamsyah, barisan Krung Panjoe pimpinan Tgk. Abd. Rahman Meunasah Meucap dan masih banyak barisan lainnya yang ikut mengambil bagian dari misi ini.
Setelah persenjataan dirasa cukup, pasukan API dan Barisan kelaskaran yang telah disiapkan diperintahkan untuk menduduki pos-pos yang telah ditetapkan. Krung Panjoe dipilih sebagai basis penghadangan, karena letaknya yang strategis, terdapat rel kereta api yang akan dilalui oleh serdadu Jepang yang bergerak dari Lhokseumawe dan kata ayah hingga tahun 1987 kereta itu masi tetap aktif, ayah sering menaiki kereta tersebut ketika bepergian dari Matang Glumpang Dua ke Bireuen, apalagi pas lebaran tiba. Selain itu, Krueng Panjoe juga merupakan daerah persawahan di sana terdapat tanggul besar yang digunakan untuk mengairi sawah. Tanggul itu bisa dijadikan sebagai pertahanan bagi para pejuang kala itu.
Krueng Panjoe merupakan sebuah daerah yang berada didekat desa dimana saya tinggal boleh dikata sebagai desa tetangga, sekitar tiga kilometer arah timur Matang Geulumpangdua tentu anda sering mendengarnya, kenapa tidak, karna disitu terkenal dengan wisata kulinernya yakni Sate Matang yang dapat memanjakan setiap lidah yang mencicipinya.
Di masa perjuangan kemerdekaan dikenal sebagai kota santri dengan ribuan santri fanatik. Di daerah tersebut berdiri Madrasah Tsanawiyah yang terkenal maju yakni di kawasan Peusangan. Madrasah itu diasuh oleh ulama besar Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, salah seorang pendiri Persatuan Ulama Aceh (PUSA) bersama ulama besar Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Pergerakan tentara Jepang akan dicegat oleh pejuang Aceh di Krueng Panjoe agar tidak   merembet ke daerah lain. Karna selain kota Bireuen disinyalir Jepang juga akan menduduki kembali tempat-tempat strategis lainnya seperti Teupin Mane, Geulanggang Labu, Tambo, Cot Gapu dan Blang Pulo. Satu batalyon tempur Jepang dari Lhokseumawe yang ingin masuk kembali ke Bireuen itu dihadang di Krueng Panjoe oleh rakyat bersama. Serentak dengan itu dilakukan pula pembongkaran rel kereta api di kampung Pante Gajah lokasi yang juga tepat untuk melakukan penghadangan, sekitar 3 km sebelum masuk stasiun yang berada di Matang Glumpang Dua.
Tepat pukul 12.30 siang kereta api yang naas itu meluncur memasuki area yang telah di tentukan. ketika kereta api terperosok tentara Jepang pun diserang dari berbagai sisi. Para pejuang menghujani kereta api yang ditumpangi oleh serdadu Jepang dengan tembakan yang gencar, sehingga membuat serdadu jepang agak kebingungan. 
Sesekali disela-sela ayah sedang bercerita saya memotong keseriusannya dengan mencoba bertanya beberapa hal yang membuat hati ini penasaran,”beuho that lagoe ureung Aceh ayah?”, beliau hanya tersenyum dan melanjutkan kembali ceritanya.
Pertempuran berkobar dari siang sampai malam. Pasukan kita dengan moril yang tersisa tetap mengepung Jepang yang terkurung dalam gerbong-gerbong kereta api. Serdadu Jepang dibuatnya kewalahan oleh para pejuang Aceh. Tengah malam menjelang subuh terlihat kesibukan serdadu jepang keluar dari gerbong  menggali lubang-lubang perlindungan di persawahan.
Sementara itu makanan untuk para pejuang kita berupa nasi bungkus telah disiapkan para ibu dan anak-anak gadis, mereka mengupayakan agar dapat mengambil bagian dari perjuangan besar itu dengan melakukan hal-hal yang semampunya bisa dilakukan.
Besok paginya, 25 November 1945, pasukan Jepang telah berada dalam saluran dan lubang perlindungan yang digalinya. Rakyat Krueng Panjoe bersama Pasukan API/TKR terus menggempur. Bersamaan dengan itu pintu tanggul pun dibuka, air mengalir deras  kesawah. Lubang-lubang yang digali Jepang penuh dengan air. Mereka terendam dalam persembunyiannya. Pertempuran terus berlangsung hingga sore hari.
Akhirnya karna tidak sanggup lagi melawan para pejuang Aceh, pada hari ke tiga, 26 November 1945 pukul 12.50 tentara Jepang  mengibarkan bendera putih di gerbong kereta api. Jepang menyerah. Pimpinan pasukan Jepang Mayor Ibi Hara dan juru bicara Muramoto keluar dari gerbong kereta api dengan bendera putih di tangan. Setelah melakukan perundingan Mayor Ibi Hara tewas. Ia melakukan harakiri (bunuh diri) akibat syok dengan  kekalahan yang dialami pasukannya itu. 
Pertempuran Krung Panjoe dinilai oleh kalangan militer sebagai pertempuran yang bersejarah, karena ia telah mampu membangkitkan kepercayaan diri yang besar di kalangan masyarakat untuk mengusir Jepang dari Tanah Air.
Begitulah kisah yang telah diukir oleh para pejuang kita dengan segala upaya dan jerih payahnya dalam mempertahankan Tanah Indatu dari tangan orang asing. Sehingga Aceh kala itu menjadi negeri yang paling ditakuti oleh para penjajah.
Namun tugu yang menjadi lambang keberanian bangsa aceh itu sekarang seperti sebuah benda usang yang diabaikan dan tidak terurus, ketika saya berkunjung kesana baru-baru ini saya melihat banyak rerumputan liar tumbuh disekitaranya, tingginya hampir menutupi separuh tugu tersebut dan pagar besi yang menjadi pembatas tugu itu mulai memudar oleh noda karat kecoklat-coklatan. Sepertinya masyarakat setempat sudah kurang peduli terhadap peninggalan dan bukti-bukti sejarah. Maka itu menjadi tugas kita sebagai generasi bangsa untuk terus menjaga dan menggali sejarah, menjaga sejarah bukan hanya tugas pemerintah  tetapi juga tanggung jawab semua masyarakat, supaya kita tau betapa kuat dan beraninya para nenek moyang kita dalam mempertahankan tanah air tercinta ini sehingga saat ini kita sebagai cucu-cucunya bisa mencicipi dan merasakan buah keberanian mereka.
Rizatul Akmal

Siapa yang Paling Bahagia?



Majalahumdah.com“Aku tidak melihat kebahagiaan itu dengan mengumpul harta.Tetapi orang yang bertaqwa itulah orang yang bahagia.Bukanlah orang bahagia itu adalah orang yang dibahagiakan oleh dunianya. Karena sungguh orang bahagia itu adalah orang selamat dari api neraka” (Syair)

In qulta (jikaengkau berkata) siapa yang paling bahagia ? Qultu (aku berkata), sebagai penuntut maka pena akan saya angkat bicara serta menulis bahwa makhluk tuhan yang paling bahagia adalah para penuntut ilmu. Setuju ?Sebelumnya mari kita defenisiakan kebahagian. Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Kebahagiaan adalah dambaan semua kita, baik yang papa atau kaya. Bijaksana atau  durjana. Motivasi menuju kesana juga sering menjadi pembicaran para motivator di audotorim atau di di atas mimbar  para dai.Bahkan seorang anak semenjak dari kecil sudah di konsep oleh orang tuanya agara kelak besar dia adalah anak yang bahagia. Harapan kesulitan hidup yang pahit yang pernah dia alami tidak ingin dialami oleh anak.

Meneruskan asumsi diawal tadi.Inqulta Qultu , siapa yang paling bahagia dalam hal canda dan tawa. Bukan apa- apa dan takseberapa.Bagi saya, santri dengan lima ribu saja bisa khem raya raya. Ini yang pernah pena dengar dari guru guru sepertinya mantra ini adalah isyarat betapa uang bukanlah oriantasi kebahagiaan toh buktinya uang sedikit bisa membuat kita sedikit bahagia. Beda dengan di luar dayah sampai ada istilah kalau ngomong harus sesuai uang jajan.Betapa uang itu kadang menuntukan kebebasan berekspresi. Kehidupan pesantren melatih kita untuk hemat dan dermawan. Kok bisa ? apa ia ? cari tau saja ?

Semua kita cinta dengan kebaikan. Siang ini setelah ujian terakhir,sekali duduk pena mengahabiskan 79 halaman Hujan, novel Tere Liya. Disana ada remaja bernama Lail dan Esok. Dua tokoh anak yang kurang beruntung akibat bencana hebat menerpa kota. 79 halaman itu sanggup menyihir pena ingin menjadi sosok Esok.Dia bagai malaikat bagi gadis 13 tahun bernama Lail. Lail kehilangan Ibunya dalam tangga darurat kereta api bawah tanah.  Tidak ada yang tidak suka dengan kebaikan sebab buahnya adalah kebahagian.

https://www.majalahumdah.com/2017/03/pembinaan-nafsu-dan-akal.html

Selanjutnya jika kebahagian itu digambarakan dalam bentuk amalan shalih maka Alhamdulillah wa syukrulillah, kalian para santri sangat tepat. Iya kalian adalah orangnya. Bahagia that that. Pada suatu ketika seorang guru berkata “ Saya iri terhadap santri, kehidupnya rapi. Semuanya sudah terjadwalkan. Amalan shalih istiqamah”. Tiga hal. Santri, amal shalih dan bahagia. Seperti sirkulasi makanan yang tidak pernah saling cemooh.

Senada dengan yang dikatakan Syekh al-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin, orang bahagia dia yang shalat lima waktu dengan tepat, melakukan perbuatan yang bermanfaat, bersahabat dengan orang shalih, dermawan dan tawadhu. Insya Allah apa yang disebutkan oleh nya ada pada diri santri maka pantas santri adalah orang yang bahagia.  

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An -Nahl 97)


 riz.ar

Bukan Sekedar Perhiasan Bumi



Majalahumdah.comManusia adalah makluk Allah yang paling sempurna. Allah berfirman dalam surah At Tin 04  “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Paras yang cantik, bentuk tubuh yang ideal, di disain untuk memudahkan aktifitas manusia itu sendiri. Manusia diberikan akal yang kemudian membedakan manusia dengan ciptaan Allah lainnya.

Manusia bukanlah hiasan dunia yang sekedar ada tanpa maksud penciptaan. Perhatikan betapa banyak nikmat yang Allah berikan untuk manusia, bumi beserta isinya adalah tempat manusia mencari, megembara, memanfaatkan aa yang ada di dalamnya.

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratn dan dilautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. (Q.S Al Isra’: 70)

Mengomentari ayat tersebut Imam Jalal dalam tafsir Jalalain mengatakan “ (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan) Kami utamakan (anak-anak Adam) dengan pengetahuan, akal, bentuk yang paling baik, setelah wafat jenazahnya dianggap suci dan lain sebagainya (dan Kami angkut mereka di daratan) dengan menaikikendaraan (dan di lautan) dengan menaiki perahu-perahu (dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan) seperti hewan-hewan ternak dan hewan-hewan liar (dengan kelebihan yang sempurna.) Lafal man di sini bermakna maa; atau makna yang dimaksudnya menurut bab yang berlaku padanya. Maknanya menyangkut juga para malaikat; sedangkan makna yang dimaksud adalah pengutamaan jenisnya, dan tidak mesti semua individu manusia itu lebih utama dari malaikat karena mereka lebih utama daripada manusia yang selain para nabi.

https://www.majalahumdah.com/2018/03/hakikat-ibadah.html

Buya Hamka berkata “ Bila manusia hidup cuma sekedar hidup maka babi juga hidup, bila manusia berkerja bekerja Cuma sekedar bekerja maka kera juga bekerja” Bahkan sering kita mendengar bila manusia mengumpulkan air laut dan dedaunana untuk menghitung jumlah fasilitas yang Allah berikan kepada manusia sungguh manusia itu tidak mampu menghitung sekalipun dengan mesin hitung paling mukhtahir. Nikamat bagaikan hujan deras terus Allah berikan tanpa kita minta, atau memang kita yang meminta tapi seberapa mampu lisan ini meminta begitu banyak kebutuhan kita setiap waktunya. Demikanlah Allah begitu kasih sayang terhdapa hambanya.

Sudah saatnya kita sadar betapa besar nikmat dan karunia yang kita pakai selama ini. Lalu untuk apa kita diciptakan ? apakah untuk hiasan saja ? kembali kepada pertanyaan. Ibarat sebuah ladang, bumi adalah tempat kita menanam. Dunia mazra’ah lil akhirat. Usia, kesungguhna kita dalam bercocok tanam di dunia tidak akan mengihianati hasil yang akan kita aih esok. Alam barzah adalah tempat bernikmat yang sugra adapun akhirat adalah tempat kita memanen amal yang kubra. 

Ibadah adalah orientasi kehidupan kita. Sebagai apa dan dimana kita duduk berkerja ada ibadah disana. Dalam hutan rimba sekalipun masih ada sepetak tanah untuk kita bersujud kepadaNya. Sibuk dengan ibadah sendiri, kesampingkan kesibukan kita terhadap amala keburukan orang lainya. Man Rabbuka (siapa Tuhan engkau)  yang akan ditanya, bukan Man Rabbuhu ( Siapa tuhan dia ).

Waallahu’alam

riz.ar

Pentingnya Memahami Asbabun Nuzul

Majalahumdah.comPerlu dipahami bahwa ayat Alquran sebagiannya diturunkan secara ibtidaan, yaitu tanpa diawali oleh suatu kejadian atau adanya suatu pertanyaan. Sementara sebagian lainnya diturunkan berberengan dengan terjadinya suatu peristiwa. Nah, model kedua ini disebut ayat yang memiliki asbab nuzul.

Lalu apa pentingnya memahami asbab nuzul?
Ada banyak faedah dari memahami asbab nuzul, di antaranya adalah agar tidak terjebak dalam kesalahan memahami ayat Alquran.
Dalam kitab Al-Itqan fii Ulum Al-Quran, Imam Suyuthi menunjukkan beberapa contoh ayat yang sangat berpotensi kepada kesalahan dalam pemahaman andai tidak memahami asbab nuzul.

Pertama :
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih. (Ali Imran : 188)
Marwan bin Al-Hakam pernah mengalami kesulitan dalam memahami ayat ini. Beliau berkata, "Kalau setiap orang merasa senang atas apa yang ia kerjakan dan merasa gembira saat dipuji terhadap apa yang tidak ia kerjakan, maka sungguh kita semua akan merasakan azab." Lalu Ibnu Abbas menjelaskan bahwa konteks ayat ini ditujukan kepada Ahlu kitab, di mana saat Nabi Saw bertanya kepada mereka tentang sesuatu, mereka menyembunyikannya dan memberitakan yang sebaliknya. Mereka mengira bahwa mereka telah menyampaikan apa yang Nabi Saw tanyakan dan merasa terpuji dengan hal itu.


Kedua :
لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جُنَاحٌ فِيْمَا طَعِمُوْٓا
Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan …(Al-Maidah : 93)
Diceritakan bahwa Utsman bin Mazh’un dan ‘Amr bin Ma’di Karib berpendapat bahwa khamar itu mubah dengan berdalilkan ayat di atas. Seandainya keduanya memahami asbab nuzul ayat ini pasti tidak akan mengeluarkan pendapat seperti itu. Asbab nuzulnya adalah ada beberapa orang yang berkomentar saat diharamkan khamar, “Bagaimana nasib orang-orang yang telah berjihad di jalan Allah dan kini mereka telah syahid sementara dalam hidupnya dulu pernah meminum khamar yang merupakan sesuatu yang keji.” Maka diturunkanlah ayat ini yang menyatakan bahwa apa yang sudah terjadi sebelum turunnya ayat yang mengharamkan khamar tidak dikenakan ganjaran apa-apa.

Ketiga :
وَالّٰۤـِٔيْ يَىِٕسْنَ مِنَ الْمَحِيْضِ مِنْ نِّسَاۤىِٕكُمْ اِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلٰثَةُ اَشْهُرٍ
Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan… (At-Thalaq : 4)
Frasa syarat “jika kamu ragu-ragu” menyebabkan kemusykilan bagi sebagian imam, sehingga kelompok Zahiriyyah berpendapat bahwa wanita menopause tidak ada iddah baginya. Kemusykilan ini menjadi jelas dengan melihat asbab nuzulnya, yaitu saat diturunkan ayat dari surat Al-Baqarah yang menjelaskan bentuk iddah para wanita, ada yang berkata masih tersisa bentuk iddah anak-anak dan orang tua yang belum dijelaskan. Maka turunlah ayat ini.
Maka dapat dipahami bahwa ayat ini merupakan khitab kepada orang-orang yang belum tau dan masih ragu-ragu tentang iddah wanita menopause, adakah bagi mereka iddah atau tidak? samakah iddahnya seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah atau tidak?
Maka frase “jika kamu ragu-ragu” maksudnya adalah jika kamu masih belum tau dan masih bingung tentang hukumnya, ini adalah hukumnya.

Keempat :
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ
Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajhullah (kiblat yang Allah ridhai – Tafsir Jalalain)…. (Al-Baqarah : 115)
Seandainya kita hanya berpedoman kepada makna ayat, maka sungguh akan menghendaki tidak wajib bagi orang yang melakukan shalat untuk mnghadap kiblat baik di tempat tinggalnya atau sedang dalam perjalanan. Pemahaman seperti ini tentu saja bertentangan dengan ijma’ (konsensus Ulama). Setelah memahami asbab nuzul, baru kita tau bahwa ayat ini konteksnya adalah terkait shalat sunat dalam perjalanan atau shalat bagi orang berada di tempat yang tidak tau ke mana arah kiblat sehingga perlu berijtihad berdasarkan khilaf riwayat pada keduanya.


Kelima :
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا
Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya…. (Al-Baqarah : 158)
Kalau melihat kepada zahir lafaz ayat, maka tidak menunjuki sa’i itu fardhu, sehingga ada yang memahami sa’i itu tidak wajib atas dasar pemahamannya dari ayat ini. Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha menolak pemahaman seperti ini dari Urwah dengan menjelaskan asbab nuzulnya, yaitu para sahabat awalnya merasa khawatir berdosa melakukan sa’i karena hal ini merupakan amalan orang-orang jahiliyah. Maka turunlah ayat ini yang dapat menghilangkan keresahan para sahabat bahwa sekalipun mereka tidak berdosa melakukan sa’i meski itu dulunya merupakan amalan jahiliyyah. Jadi bukan bermakna sa’i itu bukan fardhu.

Demikian beberapa contoh ayat yang Alfaqir rangkum dari kitab Al-Itqan fii Ulum Al-Quran karya Imam As-Suyuthi di mana sangat dimungkinkan terjadi kesalahpahaman bila tidak memahami asbab nuzulnya. Semoga bermanfaat!

Tgk Muhammad Iqbal Jalil 


Bagaimana Cara Memuliakan Anak Yatim


Majalahumdah.com.Tadi pagi, saat mengajar kitab Tuhfatut Thullab pada bab Taflis, kami melihat bahwa dalil pembekuan tasharruf (hak menggunakan harta) bagi muflis atau orang yang hutangnya lebih banyak dari hartanya adalah apa yang Nabi Saw praktekkan kepada Saidina Muaz bin Jabal. Karena hutangnya banyak, maka hartanya disita dan dijual untuk dibagi-bagikan kepada pemberi utang dimana masing-masing mereka mendapatkan 5/7 dari total utang yang diberikannya.

Siapa Mu'az bin Jabal? Beliau adalah sosok yang disebut oleh Rasulullah Saw sebagai Sahabat yang paling pandai memahami perkara halal dan haram. Hal ini tidak menafikan bahwa Saidina Abu Bakar adalah sahabat yang paling alim dengan syariat secara mutlak setelah para Ambiya, karena kelebihan yang didapatkan seseorang secara mutlak tidak menafikan bila ada sosok lain yang memiliki kelebihan darinya pada bidang tertentu. Hal ini sama dengan Zaid bin Tsabit yang disebutkan oleh Rasulullah Saw sebagai sahabat yang paling paham persoalan harta warisan.

Kembali kepada soal utang tadi, setelah Rasulullah saw membayar sebagian utang Mu'az kepada para ghurama', Rasul berkata, Untuk saat ini, tidak ada bayaran lain kecuali ini (5/7 dari utang secara keseluruhan). Artinya jika kemudian hari Mu'az kaya, maka dia akan melunasi total hutangnya.

Rasulullah saw kemudian mengutus Mu'az ke Yaman karena wilayah Hijaz agak sulit bagi Mu'az mencari biaya yang dapat melunasi utangnya. Rasulullah saw kemudian berdoa, "Semoga Allah menanggung kekuranganmu dan melunasi utangmu." Maka Mu'az senantiasa berada di Yaman sampai wafatnya Rasulullah saw dan qadarullah berkah doa Rasulullah saw hutangnya berhasil dilunasi.

Apa sebab Saidina Mu'az dililit hutang yang begitu banyak?
Ternyata beliau adalah seorang washiy yang diamanahkan untuk mengurus banyak anak yatim. Dalam mengurus anak yatim, beliau lebih sering menggunakan harta milik pribadinya ketimbang harta mereka. Karena itulah beliau banyak berhutang.
Biasanya orang yang banyak hutang karena ingin memenuhi fasilitas pribadi atau gaya hidup yang lebih dari sewajarnya. Tapi lihatlah Saidina Mu'az bin Jabal... Bagaimana cara beliau berinteraksi dengan anak yatim, sampai harus merantau meninggalkan tempat tinggalnya dan merelakan perpisahan dengan Nabi, demi melunasi hutang beliau dalam mengasuh anak Yatim, di samping tujuan dakwah tentunya.

Kemarin mendengar Habib Ali Zaenal Abidin Al Jufri lewat streaming yang sedang berdakwah di Indonesia menyampaikan ;
Rasulullah saw adalah bapaknya anak yatim. Artinya anak-anak yatim merasakan perhatian yang luar biasa dari Rasulullah seakan mereka merasa masih ada orang tua. Adakah anak yatim di tempat kita merasa bahwa orang di sekelilingnya perhatian kepada mereka? Semoga pribadi ini dan kita semua termasuk orang yang perhatian kepada anak yatim. Dan semakin dekat dengan anak yatim, itu artinya semakin dekat dengan Rasulullah saw. Tentu saja, tidak ada tempat lain bagi orang yang dekat dengan Rasulullah saw selain syurga.

Rasulullah saw bersabda :
انا وكافل اليتيم كهاتين في الجنة
"Aku bersama orang yang mengasuh anak yatim bagaikan dua ini dalam syurga." (sambil mengisyaratkan dua jarinya.
Namun perlu dipahami bahwa perhatian kepada anak yatim harus diwujudkan dengan cara yang baik.
Ada orang yang mengundang anak yatim ke rumahnya hanya untuk sekedar makan sepiring nasi, lalu mereka yang di tempat pendidikan misalnya harus rela jadwal belajarnya terganggu, atau kadang harus berdesak-desakan dalam mobil labi-labi sementara mobil bagus miliknya diparkir rapi, atau moto teuhah ubong di tengah teriknya cahaya matahari... Apakah seperti ini cara memuliakan anak yatim? 😥
Ada yang beralasan, kalau cuma diantar makanan ke tempat pendidikan gak ada berkah rumahnya... Pertanyaannya memaksa anak yatim berlelah-lelah menuju rumah kita adakah seperti itu cara memperoleh keberkahan?

Dalam pandangan Alfaqir yang mungkin bisa salah, ada baiknya kalau anak yatim sedang berada di tempat belajar, biarlah mereka belajar, jangan ganggu waktu belajar mereka, antar saja rantangan makanan dan sedekahnya. Kalau pun ingin dibawa keluar, lebih baik ajak mereka ke tempat wisata di waktu libur yang dapat menyenangkan mereka... Kalau pun harus diundang ke rumah, undanglah dengan cara terhormat, jemput dengan kendaraan yang paling bagus yang kita punya, berikan hadiah yang cukup untuk waktu yang mereka korbankan, karena merekalah tamu spesial yang harus kita istimewakan.

Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang peduli kepada anak yatim dengan apa yang mampu kita lakukan... Allahu Musta'an...

Tgk Muhammad Iqbal Jalil