Pedoman Gramatikal Arab dan Generasi Penyairnya

Pedoman Gramatikal Arab dan Generasi Penyairnya


Bahasa Arab adalah bahasa terkaya di dunia dan yang paling mulia, karena kalam mulia Alqur’an dan hadis berbahasa Arab. Salah satu penyebabnya dari segi gramatikalnya yang berwujud undang-undang yang kokoh dan baku. Setiap aturan-aturan kebahasaannya berlandaskan dari  sumber dan pedoman  yang kukuh serta kredebilitasnya terjamin.

Aturan lingguistik Arab berpegang kepada tiga pedoman pedoman utama.  Alqur’an, hadis, dan syair-syair Arab. Status Alqur’an sebagai pedoman bahasa Arab tentu tidak akan diragukan lagi karena kefasihan bahasanya yang tiada tanding. Bahkan, salah satu alasan diturunkannya Alqur’an kepada nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi mu’jizat  yang dapat mengalahkan sya’ir-sya’ir Arab yang cukup dikenal kefasihan dan keindahan bahasanya yang agung saat itu.

Begitu pula hadis. Hadis adalah ucapan yang indah yang keluar dari manusia mulia nabi Muhammad SAW, yang telah terjamin bahwa tidak akan keluar sepatah kata pun dari lisannya melainkan wahyu semata. Ia terlahir di tengah-tengah bangsa arab , yang secara langsung beliau akan berbahasa arab, bahasa yang paling fasih dibandingkan bahasa lainnya. Dan ia adalah manusia dengan bahasa yang paling fasih yang pernah ada. Jadi, perihal dijadikannya sabda indahnya sebagai landasan gramatikal Arab juga amat kukuh dan tepat.

Berikutnya syai’r Arab. Disebabkan kefasihan dalam berbahasa para penyairnya, maka sya’ir-syai’r Arab juga menjadi salah satu pedoman dalam penetapan undang-undang berbahasa dalam Bahasa Arab. Namun, tidak semua syai’r dari mereka menjadi rujukan. Hanya syair dari penyair pada generasi tertentu saja yang menjadi landasan bahasa. 

Berikut kami utarakan beberapa generasi penyair Arab dari masa ke masa. Secara global, penyair Arab di kelompokkan kepada 4  generasi: Jahiliyun, Mukhazramun, Mutaqaddimun; dan Muhdasun.

Jahiliyun adalah istilah yan digunakan untuk menyatakan para penyair yang hidup pada masa jahiliyah murni, sebelum Islam datang. Pada masa ini, syair dan para penyairnya cukup terkenal dan disukai. Bahkan amat sering dalam percakapan-percakapan sederhana saja mereka menyelipkan syair-syairnya, baik hanya untuk sekadar bersenang-senang maupun karena ingin mengungkapkan makna tertentu dengan sebuah kiasan. Seperti penyair terkenal Imri’il Qais, Zuhair, dan Turfah.

Mukhazramun merupakan kata lain untuk para penyair yang sempat hidup pada dua masa sekaligus. Masa jahiliyah dan awal-awal kedatangan islam ke tanah Arab. Generasi pada masa ini juga tak kalah saing dengan generasi sebelumnya. Bahkan, beberapa diantaranya, mereka yang teramat kufur, membuat tandingan terhadap Alqur’an ketika telah disuguhkan oleh Rasulullah SAW, serta menantangnya. Dan tak sedikit pula dari mereka yang masuk Islam setelah menemukan indahnya bahasa Alqur’an, dan mendapati bahwa itu bukanlah susunan bahasa manusia, melainkan Tuhan Sang Maha Pencipta. Misalnya nama yang sering kita dengar Lubaid dan Hisan RA.

Mutaqaddamun atau pada tempat lain disebutkan Islamiyun adalah sebutan untuk para penyair yang hanya hidup pada masa-masa awal kedatangan Islam. Syair dari para penyair pada generasi ini cukup terkenal dan beberapa masih tersimpan di dalam diwan-diwan syair di museum tertentu. Misalnya beberapa nama yang juga cukup familiyar, yaitu Farazdaq, Jarir, dan Zi Rimah.

Sedangkan Muhdasun adalah  nama lain untuk para penyair yang hidup pada masa setelah generasi ketiga atau ketiga berkembangnya Islam hingga seterusnya (termasuk sekarang). Namun jika syair-syair di masa kontemporer sekarang ini  acap kali telah bercampur dengan sastra-sastra internasional lainnya. Beberapa nama yang sering terlintas adalah Al-Buhturi dan Abu Tayib. Selain itu, generasi ini juga memiliki pengelompokan yang lebih spesifik lainya, yang masing-masing kelompok berbeda-beda tingkatan keindahan bahasanya.

Jadi, dari semua generasi yang telah disebutkan di atas, yang dijadikan sebagai pedoman undang-undang bahasa Arab hanya tiga generasi pertama: Jahiliyu, Mukhazramun, dan Islamiyun. Sedangkan syair-syair dari penyair generasi terakhir, Muhdasun, tidak dijadikan sebagai landasan gramatikal Arab, yang disebabkan oleh beberapa factor. Mungkin di antaranya kemurniannya yang tidak dapat terjamin lagi seiring berkembangnya bahasa dan sastra di bagian dunia lainnya pula. Demikianlah sekelumit informasi singkat perihal Landasan terbentuknya undang-undang bahasa Arab berikut tentang generasi para penyairnya.[]



Posting Komentar

0 Komentar