Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunnah yang Tak Pernah Benar-benar Tercapai

Sunnah yang Tak Pernah Benar-benar Tercapai


majalahumdah.com | Abu Bakar menatap bungkusan roti digenggamannya, lalu melihat pengemis renta dihadapannya,bergantian. Lelaki pengemis itu buta matanya mengayun-ayun kepala tidak berbicara.

“janganlah engkau dekati Muhammad, karena dia orang gila, pembohong dan tukang sihir, jika engkau mendekatinya engkau akan dipengaruhinya,” begitu pengemis buta itu suka berkata-kata dahulu, sekarang tidak lagi, kabar wafatnya sang Nabi barangkali telah sampai kepadanya, jadi ia merasa tak perlu lagi berteriak kemana-mana.

Sekarang Abu Bakar duduk didihadapannya, seoalah-olah tengah mengukur apa yang ada dikepala pengemis yahudi dihadapannya. Tebayang sedikit pembicaraannya dengan ‘aisyah tadi pagi, perbincangan mengenai pengemis dihadapannya.

“wahai putriku,adakah satu sunnah kekasihku yang belum sempat aku lakukan?,” Betapa Abu bakar ingin mengikuti apapun yang pernah dilakukan sang Nabi, sekecil apapun itu. Bahkan setelah ia berusaha keras melakukan apapun yang dicontohkan sang Nabi dia masih saja belum yakin telah benar-benar melakukan semuanya.

“wahai ayahku,” ‘Aisyah yang belia menatap ayahnya yang mulai ringkih, sementara air matanya mulai menjelaga “engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu sunnahpun yang tidak engkau lakukan kecuali satu!,” 

“ apakah itu?,” mengerut dahi Abu Bakar, ternyata benar bahwa pengetahuannya tentang sang Nabi bukan tanpa celah sama sekali.

“setiap pagi, Rasulullah selalu pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis yahudi buta disana,”

Dihadapan pengemis itu sekarang, pagi itu ia langsung menuju kepada tempat yang dikatakan ‘aisyah, ingin dia tuntaskan apapun yang dahulu dilakukan sang Nabi dan ia rasa, ia punya kemampuan untuk menyamai sang Nabi. Pengemis itu seperti hari-hari sebelumnya menunggu belas kasihan orang-orang, namun saat ini dia telah meninggalkan caci makinya terhadap Nabi.

Abu Bakar membuka bungkusan yang telah disiapkan, mengambil potongan roti lalu menyuapkannya kemulut sang pengemis. “ini tidak susah, sunnah yang mudah,” Abu Bakar membatin.

“siapa kau?”. sudah beberapa lama tak datang seseorang yang biasa menyuapinya, dan pagi ini hadir dihadapannya seseorang yang hendak melakukan hal yang serupa. Namun sipengemis merasakan perbedaan diantara keduanya.

“engkau bukanlah orang yang biasa datang kepadaku,”  Dua bola matanya yang telah kehilangan cahaya itu bergerak-gerak, ada kejengkelan disana. 

“jika dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah,” Abu bakar mendengarkan dengan tanpa menyela, ini memang sesuatu yang mesti ia dengarkan.

“orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku sedangkankan makanannya telah lebih dulu dihaluskan dengan mulutnya,”

Abu Bakar segera diserang perasaan yang melumpuhkan. Bahkan, kehendaknya untuk berlemah lembut layaknya Nabi belum ada apa-apanya, dia hendak menyuapinya dengan perlahan,sedangkan nabi mengunyahkannya terlebih dahulu supaya lembut makanan itu jadinya. Alangkah haru bercampur rindu, kenangan akan kemuliaan dan tiada dendam, menghancurkan keteguhan Abu Bakar. Dia tersedu, sedangkan tangannya gemetaran  

“aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu ,” lagi-lagi ia meneguk getir dan berusaha melanjutkan kata-kata, “aku salah seorang sahabatnya, orang mulia itu telah tiada , dia adalah Muhammad Rasulullah,”

Seolah terhenti detak jantung didada yahudi tua dihadapan Abu Bakar, seolah ada yang mencengkeram batang otaknya, badannya gemetaran, terlintas bayangan caci makinya yang sekianlama mengalir deras dari mulutnya, caci maki yang dia umbarkan kepada setiap orang dan setiap saat, bahkan disaat Rasulullah sedang menyuapi si yahudi tetap tak pernah kendur sumpah serapahnya kepada Nabi. Dia mulai terisak,

 “benarkah demikian?” luruh badan ringkih yang nafasnya pun telah tertatih, dia kini mulai menyesali dirinya sendiri “selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekkannya, tapi..tapi..” terputus-putus kata-katanya “dia tak pernah mengurangi kelembutannya, sedikitpun, setiap pagi ia mendatangiku membawakanku makanan,” menjelagalah air mata yang telah kehilangan cahaya tersebut, “ dia begitu mulia..!”

 Bertangisan Abu Bakar dan lelaki tua itu, mengingatkan dia kepada junjungannya, menjejaki apa-apa yang pernah dijejaki seseorang yang sangat dicintainya itu tekadang semacam menghentakkan palu kerinduan yang mendalam.[]

Nismul el fadhil