Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosok Uama yang Berpengaruh di Negeri Paman Sam

Tugu Krueng Panjoe Simbol Perjuangan Aceh Oleh : Rizatul Akmal Pertama kali saya mendengar cerita orang Aceh berperang dengan penjajah Jepang dari ayah saya , Ayah mengatakan “Krueng Panjoe nyan tempat ureung tanyoe poh ureung Jepang yoh masa awai.”(Krueng Panjoe merupakan tempat dimana dulunya rakyat Aceh membunuh serdadu Jepang). Ya, dulunya Krueng Panjoe merupakan tempat terjadinya peperangan antara orang Aceh dengan serdadu Jepang dan tempat itupun menjadi sebuah kenangan pahit bagi Jepang, karena di tempat tersebut  mereka kalah melawan pejuang Aceh. Bangsa Aceh begitu berani dan cekatan dalam mempertahankan tanah kelahirannya.  Untuk  mengenang peristiwa besar tersebut, sekarang telah dibangun sebuah tugu berbentuk bambu runcing sebagai bukti atau lambang keberanian Aceh, dan juga tertuliskan deretan nama para pejuang handal yang ikut andil dalam perjuangan tersebut seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap yang juga pendiri Almuslim sebagai cikal bakal berdirinya salah satu Universitas Swasta terbesar di Aceh saat ini yakni Universitas Almuslim. Tugu yang terkesan jarang dikunjungi itu juga dicantumkan nama sejumlah pimpinan lainnya yang ikut dalam pertempuran. Mereka adalah Tgk. Ismail. AR, Tgk. H. Mohd Thahir Mahmud, T. Usman Hamid, Tgk. Ibrahim Arifin, Sayed Umar. A. Wahab, Syahkubad Mahmud, M. Abidin Amin, T. Puteh Arifin, Tgk. Pang Ali dan Syeh Muhammad Insya. Masih di tugu tersebut, ada juga nama pahlawan yang syahid di medan perang seperti Mandor Basyah, Tgk. H. Cut Ben, Tgk. H. Krueng, Yakob Ibrahim, Yahya Umar, Tgk. Husin Karim. Mengenang pertama sekali saya melihat tugu itu waktu masih kecil, dahulu ketika bermain bersama teman teman, serta melihat bangunan yang kokoh berdiri di samping sebuah lapangan olahraga yang dikelilingi oleh persawahan hati bertanya-tanya “pu nyoe lage buloh cincu” (benda apa ini mirip seperti bambu runcing). Kemuskilan kemusykilan selalu saja hadir sejak melihatnya, sesampainya dirumah saya memberanikan untuk bertanya kepada ayah. Bernama Zakaria Hanafiah, dan  kebetulan ayah adalah sosok yang mencintai sejarah, Kata ayah “Itu adalah Tugu yang didirikan untuk mengenang pertempuran pejuang kita melawan Jepang” dan dari situlah dimulainya cerita ini, beliau langsung bercerita panjang lebar tentang sejarah tersebut. Perang di Krueng Panjoe terjadi pada 24-26 November 1945. Hasil pertempuran tiga hari berturut-turut itu, para pejuang Aceh berhasil membuat satu batalyon tentara Jepang-yang ingin merebut kembali kota Bireuen-bertekuk lutut. Pejuang Aceh kala itu gencar melucuti senjata pasukan Jepang.  Tentara Jepang yang sudah berkemas terkonsentrasi di Lhokseumawe dikonsolidasikan menjadi satu batalyon tempur. Mereka diperintahkan untuk menduduki kembali Kota Bireuen dan tempat-tempat strategis lainnya untuk merampas kembali senjata yang sudah jatuh ke tangan rakyat. Sementara di kalangan pemuda pejuang Aceh, pemburuan senjata Jepang terus dilakukan, ini pekerjaan nekad. Disamping keberanian, juga dibutuhkan trik-trik yang jitu. Keberanian saja tidak cukup. Ada satu hal yang sangat mengesankan. Para pejuang dan pemuda kita (Aceh) kala itu tampaknya berlomba-lomba menawarkan diri atau berebut ingin diberi tugas oleh pimpinan untuk merebut senjata Jepang di asrama bahkan digudangnya sekalipun. Saat itu muncul jargon “Tentra Jepang jeut di bet langkah dari Aceh tapi meusineuk aneuk bude bek ipeutibit” (Serdadu Jepang boleh enyah dari Aceh, tapi senjatanya satu pelor pun tidak boleh berpindah tempat).  Tidak dapat di pungkiri semangat juang yang terpancar dari pemuda Aceh, karena sejak dulu rakyat Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, seperti  Hikayat Prang Sabi, yang merupakan salah satu karya monumental seorang ulama sekaligus pejuang Aceh yakni Tgk Chik Pante Kulu, Hikayat Prang Sabi merupakan syair kepahlawanan yang membentuk irama dan nada yang sangat heroik, mampu mendorong semangat jihad bagi pejuang Aceh. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak Aceh, baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil dari masa ke masa dalam sejarah Aceh sepanjang abad. Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam membakar semangat perjuangan rakyat Aceh. Berbagai upaya dilakukan oleh pemuda dan pejuang Aceh untuk menerobos, menguasai alat persenjataan jepang dari sarang-sarangnya. Di daerah Bireuen  terdapat gudang persenjataan milik Jepang untuk menyuplai kebutuhan perang, tepatnya di Tepin Mane di pinggiran kota Bireuen menuju arah jalan ke Takengon. Di Cot Gapu juga terdapat lapangan terbang darurat yang sebelumnya dijadikan resimen induk Jepang yang memasok kebutuhan logistik militernya. Di sana waktu itu masih tersimpan logistik dan senjata Jepang termasuk tank yang onderdilnya sudah dipreteli. Malah dari sekian banyak tank di situ, delapan diantaranya masih bisa difungsikan setelah diperbaiki oleh montir M. Yusuf Ahmad.  Rencana pergerakan tentara Jepang yang bertolak dari kota Lhokseumawe telah lebih dulu diketahui oleh para pejuang Aceh yang berada di Bireuen, dengan segala persiapan dilakukan termasuk membentuk sebuah pasukan komando yang menghimpun pasukan API (Angkatan Pemuda Indonesia)/TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dibawan pimpinan kapten T. Hamzah. Selain itu Pasukan rakyat juga di ikut sertakan, terdiri dari beberapa barisan yakni barisan Juli pimpinan keuchik Ibrahim, barisan Samalanga pimpinan Tgk. Syahbudin, barisan Jeunib pimpinan Peutua Ali, barisan Gurugok pimpinan Tgk. Zamzami, Barisan Peusangan pimpinan T. M. Hasan Alamsyah, barisan KruengPanjoe pimpinan Tgk. Abd. Rahman Meunasah Meucap dan masih banyak barisan lainnya yang ikut mengambil bagian dari misi ini. Setelah persenjataan dirasa cukup, pasukan API dan Barisan kelaskaran yang telah disiapkan diperintahkan untuk menduduki pos-pos yang telah ditetapkan. KruengPanjoe dipilih sebagai basis penghadangan, karena letaknya yang strategis, terdapat rel kereta api yang akan dilalui oleh serdadu Jepang yang bergerak dari Lhokseumawe dan kata ayah hingga tahun 1987 kereta itu masi tetap aktif, ayah sering menaiki kereta tersebut ketika bepergian dari Matang Glumpang Dua ke Bireuen, terlebih di moment lebaran. Selain itu, Krueng Panjoe juga merupakan daerah persawahan, di sana terdapat tanggul besar yang digunakan untuk mengairi sawah. Tanggul itu bisa dijadikan sebagai pertahanan bagi para pejuang kala itu. Krueng Panjoe merupakan sebuah daerah yang berada didekat desa dimana saya tinggal boleh dikata sebagai desa tetangga, sekitar tiga kilometer arah timur Matang Geulumpang Dua, tentu anda sering mendengarnya. Daerah dengan wisata kulinernya Sate Matan memanjakan setiap lidah yang mencicipinya. Di masa perjuangan kemerdekaan dikenal sebagai kota santri dengan ribuan santri fanatik. Di daerah tersebut berdiri Madrasah Tsanawiyah yang terkenal maju yakni di kawasan Peusangan. Madrasah itu diasuh oleh ulama besar Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, salah seorang pendiri Persatuan Ulama Aceh (PUSA) bersama ulama besar Teungku Muhammad Daud Beureueh. Pergerakan tentara Jepang akan dicegat oleh pejuang Aceh di Krueng Panjoe agar tidak merembet ke daerah lain. Karena selain kota Bireuen disinyalir Jepang juga akan menduduki kembali tempat-tempat strategis lainnya seperti Teupin Mane, Geulanggang Labu, Tambo, Cot Gapu dan Blang Pulo. Satu batalyon tempur Jepang dari Lhokseumawe yang ingin masuk kembali ke Bireuen itu dihadang di Krueng Panjoe oleh rakyat bersama. Serentak dengan itu dilakukan pula pembongkaran rel kereta api di kampung Pante Gajah lokasi yang juga tepat untuk melakukan penghadangan, sekitar 3 km sebelum masuk stasiun yang berada di Matang Glumpang Dua. Tepat pukul 12.30 siang kereta api yang naas itu meluncur memasuki area yang telah di tentukan. ketika kereta api terperosok tentara Jepang pun diserang dari berbagai sisi. Para pejuang menghujani kereta api yang ditumpangi oleh serdadu Jepang dengan tembakan yang gencar, sehingga membuat serdadu jepang agak kebingungan.  Sesekali disela-sela ayah sedang bercerita saya memotong keseriusannya dengan mencoba bertanya beberapa hal yang membuat hati ini penasaran,”beuho that lagoe ureung Aceh ayah?”, beliau hanya tersenyum dan melanjutkan kembali ceritanya. Pertempuran berkobar dari siang sampai malam. Pasukan kita dengan perlengkapan apa adanya tetap mengepung Jepang yang terkurung dalam gerbong-gerbong kereta api. Serdadu Jepang dibuatnya kewalahan oleh para pejuang Aceh. Tengah malam menjelang subuh terlihat kesibukan serdadu jepang keluar dari gerbong  menggali lubang-lubang perlindungan di persawahan. Sementara itu makanan untuk para pejuang kita berupa nasi bungkus telah disiapkan para ibu dan anak-anak gadis, mereka para wanita tidak mau kalah, mengupayakan agar dapat mengambil bagian dari perjuangan besar itu dengan melakukan hal-hal yang semampunya bisa dilakukan. Besok paginya, 25 November 1945, pasukan Jepang telah berada dalam saluran dan lubang perlindungan yang digalinya. Rakyat Krueng Panjoe bersama Pasukan API/TKR terus menggempur. Bersamaan dengan itu pintu tanggul pun dibuka, air mengalir deras  kesawah. Lubang-lubang yang digali Jepang penuh dengan air. Mereka terendam dalam persembunyiannya. Pertempuran terus berlangsung hingga sore hari. Akhirnya karna tidak sanggup lagi melawan para pejuang Aceh, pada hari ke tiga, 26 November 1945 pukul 12.50 tentara Jepang  mengibarkan bendera putih di gerbong kereta api. Jepang menyerah. Pimpinan pasukan Jepang Mayor Ibi Hara dan juru bicara Muramoto keluar dari gerbong kereta api dengan bendera putih di tangan. Setelah melakukan perundingan Mayor Ibi Hara tewas. Ia melakukan harakiri (bunuh diri) akibat panik dengan kekalahan yang dialami pasukannya itu.  Pertempuran Krueng Panjoe dinilai oleh kalangan militer sebagai pertempuran yang bersejarah, karena ia telah mampu membangkitkan kepercayaan diri yang besar di kalangan masyarakat untuk mengusir Jepang dari Tanah Air. Begitulah kisah yang telah diukir oleh para pejuang kita dengan segala upaya dan jerih payahnya dalam mempertahankan Tanah Indatu dari tangan orang asing, penjajah. Sehingga Aceh kala itu menjadi negeri yang berwibawa di dunia. Saya berdiiri tegap, bangga dengan perjuangan ini namun hati ini tersayat perih, batin menjerit. Tugu KruengPanjoe yang menjadi lambang keberanian bangsa Aceh itu dulu, sekarang layaknya sebuah benda usang yang diabaikan dan tidak terurus, ketika saya berkunjung kesana baru-baru ini saya melihat banyak rerumputan liar tumbuh disekitaranya, tingginya hampir menutupi separuh tugu tersebut dan pagar besi yang menjadi pembatas tugu itu mulai memudar oleh noda karat kecoklat-coklatan. Sepertinya masyarakat setempat sudah kurang peduli terhadap peninggalan dan bukti-bukti sejarah. Maka itu menjadi tugas kita sebagai generasi bangsa untuk terus menjaga dan menggali sejarah, menjaga sejarah bukan hanya tugas pemerintah  tetapi juga tanggung jawab semua masyarakat, supaya kita tau betapa kuat dan beraninya para nenek moyang kita dalam mempertahankan tanah air tercinta ini sehingga saat ini kita sebagai cucu-cucunya bisa mencicipi dan merasakan buah keberanian mereka.




majalahumdah.com - Hamza Yusuf adalah seorang ulama asal Amerika Serikat dan salah satu pendiri Zaytuna College. Ia adalah satu di antara sejumlah pendukung pembelajaran Ilmu Islam klasik dan telah mempromosikan ilmu-ilmu dan metode pengajaran Ilmu Islam klasik tersebut ke seluruh dunia.

Ia adalah seorang penasehat di Program Studi Keislaman di Stanford University dan di Pusat Studi Keislaman di Pasca-sarjana Teologi di Berkeley. Ia juga menjadi anggota dewan penasehat di '"One Nation" George Russell', suatu inisiatif filantropi nasional yang menyerukan pluralisme dan inklusif di Amerika Serikat. Sebagai tambahan, ia juga menjadi wakil presiden pada Pusat Global untuk Bimbingan and Pembaharuan, yang didirikan dan saat ini diketuai oleh Abdallah bin Bayyah

Hamza adalah salah satu tokoh yang menandatangani  A Common Word Between Us and You, suatu surat terbuka oleh para ulama Islam kepada para pemimipin Kristiani, menyerukan perdamaian dan saling memaklumi. Harian The Guardian di Inggris menyebutkan bahwa "Hamza Yusuf adalah ulama Islam barat yang paling berpengaruh. 

 

Kehidupan Awal 

Yusuf terlahir dengan nama Mark Hanson dari dua orang tua yang akademisi[ di negara bagian Washington dan dibesarkan di California Utara. Ia anak laki-laki kedua dan pertengahan dari tujuh bersaudara]. Ayahnya seorang profesor ilmu sosial di suatu universitas di California Utara, sementara ibunya lulusan Universitas California di Berkeley.

Ia berdarah skotlandia dan Irlandia Dari garis ayahnya, sementara dari ibunya berdarah Yunani dan eropa utara lainnya. Kakek dari kakeknya dari sebelah ayah bernama Michael O'Hanson berimigrasi dari Irlandia ke Philadelphia pada tahun 1840-an yang saat itu mengalami masa paceklik, sementara ayahnya dilahirkan di Duluth, Minnesota. Kakek dan neneknya dari sebelah ibu berimigrasi ke Amerika Serikat melalui pulau Ellis di New York pada tahun 1896.

Ia dibesarkan dalam lingkungan agama Kristen Ortodoks Yunani dan bersekolah di pesisir timur dan barat negara Amerika Serikat. Saat usianya 12 tahun, kakek dari sebelah ibunya mengirim Hamza dan saudarinya, Nabila, ke Kamp Ortodoks di Yunani untuk belajar agalam Katolik (Ia tampaknya diarahkan agar menjadi pendeta pada masa mudanya). Pada tahun 1977, setelah mengalami kecelakan mobil yang hampir mematikan, ia mulai mencari-cari tentang kehidupan setelah mati dan mulai membaca Al-Qur'an yang pada akhirnya ia memeluk agama Islam Saudarinya Nabila adalah satu-satu saudaranya yang masuk ke agama Islam.


Pendidikan 

Hamza Yusuf menghabiskan waktunya belajar di luar Amerika Serikat selama sepuluh tahun. Tidak lama setelah pindah agama ke Islam, Yusuf pindah ke London di Inggris, ke Granada di Spanyo dan pada akhirnya Al Ain di Abu DhabiUni Emirat Arab untuk mengejar secara serius ilmu-ilmu keislaman. Di sana, ia secara khusus belajar bahasa arab dan juga sekaligus menjadi muazzin di suatu masjid lokal selama empat tahun. Ia berkenalaan dengan sejumlah ulama asal Mauritania dan lalu mulai belajar secara serius ilmu-ilmu islam termasuk fiqih mazhab Maliki. Pada akhirnya ini membawanya melakukan perjalanan ke negeri Mauritania untuk belajar lebih serius kepada satu ulama paling terkenal di sana, Sidi Muhammad ould Fahfu al-Massumi, lebih dikenal sebagai Murabit al-Hajj. Selama masa tinggalnya di sana, Yusuf tinggal dan belajar langsung kepada Murabit al-Hajj selama 3 tahun.

Selain gelar-gelar keislaman, ia pun berhasil menamatkan pendidikan dalam sastra Inggris dengan gelar Sarjana Muda (A.A) di Imperial Valley, California pada tahun 1990 dan Ilmu keperawatan (gelar A.S) dari kampus yang sama.

Pada tahun 1991 ia dianugerahi gelar doktor Honoris Causa oleh Syaikh Shadhili Naifer, dekan Universitas Zaytuna di Tunis, dan sejak tahun 2009 sampai saat ini, Ia terdaftar sebagai kandidat doktor dalam program studi keislaman di Graduate Theological Union, Berkeley

 

Yusuf pernah menyatakan bahwa aksi terorisme tidak memiliki landasan hukum fiqih.Ia menyatakan serangan 11 September sebagai "suatu aksi 'pembunuhan massal murni semata-mata'". Sambil mengecam serangan-serangan tersebut, ia juga menyatakan bahwa "Islam telah dibajak ... di pesawat tersebut sama seperti halnya korban yang tidak bersalah".

Pusat Studi Strategis Keislaman Kerajaan Jordania saat ini menempatkannya pada posisi ke-42 di antara 500 orang muslim yang paling berpengaruh di dunia. Majalah Egypt Today mendeskripsikannya sebagai seorang bintang rok teologi, "Elvis Presley-nya Muslim Barat. Baru-baru ini, Hamza Yusuf ditempatkan sebagai "Ulama muslim barat yang paling berpengaruh di dunia" oleh The 500 Most Influential Muslims, dengan editor John Esposito dan Ibrahim Kalin (2009).