Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKAN DENGAN TIGA JARI?


 



Dalam hadist memang dijelaskan bahwa ketika makan Rasulullah SAW. Menggunakan tiga jari yaitu ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah dan menjilat tangan beliau dimulai dari jari tengah, jari telunjuk kemudian ibu jari sebelum beliau mengusapnya dengan sapu tangan. Jadi bagaimana kita yang makan dengan semua jari? Apakah kita termasuk ‘ingkarussunnah’ karena tidak mengikuti perbuatan Nabi SAW?
Nah, disinilah kita perlu menelisik kitab mu’tabar karya ulama. Di dalam kitab Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi beliau menuturkan “Makan dengan tiga jari hukumnya sunnah, dan tidak menggabungkan jari keempat dan kelima kecuali karena udzur, seperti makanannya berupa kuah dan selainnya berupa makanan yang tidak memungkinkan memakannya dengan tiga jari, dan udzur-udzur lainnya. Termasuk kesunnahan makan adalah menjilat tangan untuk menjaga barokah makanan dan membersihkan tangan.
Beliau menambahkan “Dan disunnahkan makan dengan tiga jari, dan janganlah seseorang menggunakan jari yang keempat dan kelima kecuali karena udzur, seperti makanannya berupa kuah dan selainnya berupa makanan yang tidak memungkinkan memakannya dengan tiga jari, dan udzur-udzur lainnya”
Jadi kok harus tiga jari? Apa hikmah dibalik itu semua seperti yang dipraktekkan Nabi SAW.? Disebutkan di dalam kitab Mirqatil mafatih syarh Misykatul Masyabih Syaikh Mulla Ali Al-qari menuturkan bahwa  memakan dengan tiga jari lebih bermanfaat dan lebih praktis. Sedangkan makan dengan satu jari adalah prilaku orang sombong (itupun kalau ada) dan tiada kelezatan dan nikmat disaat melakukannya. Memakan dengan dua jari adalah caranya syaithan bahkan menghilangkan sesuatu yang ganjil, padahal Allah menyukai sesuatu yang ganjil. Kemudian  bagi yang memakan dengan lima jari adalah tingkah laku orang rakus. Beliau (syaikh Mulla Ali Al-qari) melanjutkan “sepatutnya orang yang makan seperti itu (makan lima jari) mati secepatnya karena menyalahi kebiasaan manusia dalam makan.”

Baca Juga : Solusi (untaian yang kecil dengan makna)
Nah sudah jelas kan? Jadi jangan terlalu cemas terhadap dengan apa yang kita lakukan saat ini. Apalagi kita orang Indonesia pada umunya mengonsumsi makanan berkuah. Disinilah kita perlu banyak-banyak menggali ilmu, dan tidak terpaku pada Ayat Al-Quran atau Hadis secara kontekstual. Maka kita perlu membuka lembaran-lembaran kitab kuning karya Ulama   yang mampu mengupasnya lebih lanjut karena memang itu keahlian mereka. Buya Hamka berkata “Semakin banyak ilmu semakin lapang hidup, semakin kurang ilmu semakin sempit hidup"
  Maka dari itu mencari ilmu tidak ada batasannya karena semakin banyak ilmu maka hidup akan semakin lapang. Ilmu juga akan membuat pikiran jadi lebih terbuka terhadap banyak kemungkinan, terbuka terhadap banyak perbedaan.Begitu pun sebaliknya semakin kurang ilmu maka semakin sempit pula hidupnya. Bagai katak dalam tempurung barang kali itu adalah istilah yang pas bila kita kekurangan ilmu. Sempit tapi sombong.


Oleh : Syababulyum (kelas 5A)