Imam Abu Al-Wafa Ali Ibnu ‘Uqail (Ibnu Aqil Al-Hanbali)
“Ratusan Jilid yang Menantang Zaman: Warisan Tak Tertandingi Ibnu Aqil.”
Di antara jejak tinta para ulama yang menghiasi lembaran sejarah Islam, ada satu nama yang tak sekadar dikenang, ia mengguncang batas kewajaran manusia dalam menulis: Abu al-Wafa Ibn Aqil. Jika para ulama lain dikenal dengan satu, dua, atau puluhan karya, maka ia datang dengan sesuatu yang hampir tak masuk akal bagi akal modern, sebuah lautan tulisan yang seolah menolak untuk bertepi.
Di saat malam menjadi waktu istirahat bagi kebanyakan manusia, bagi Ibn Aqil ia justru menjadi ladang yang sunyi untuk menanam kata demi kata. Hari-harinya bukan sekadar berlalu, tetapi diabadikan dalam tinta; pikirannya bukan hanya terlintas, melainkan dikunci dalam lembaran-lembaran yang terus bertambah, tanpa tanda akan berhenti. Hingga lahirlah sebuah karya yang membuat sejarah terdiam sejenak: Al-Funun, sebuah ensiklopedia raksasa yang disebut-sebut mencapai ratusan jilid, begitu tebal, begitu luas, bahkan jika kitab tersebut jika disusun dengan berjejer bisa mencapai 40 meter, hingga belum ada yang mampu menandinginya sampai hari ini.
Kitab ini terdiri dari 800 jilid tebal. Dan dinyatakan sebagai kitab karya ulama terbesar sepanjang masa yang belum ada tandingannya hingga hari ini. Al Imam Ibnu Jauzi berkata :
“Belum pernah disusun di dunia ini kitab yang lebih besar darinya.”
Dinamakan al-Funun karena kitab ini mencakup berbagai macam ragam disiplin ilmu, mulai dari akidah hingga ilmu terapan (teknologi) pada masa itu. Bahkan ada yang menyebut di dalamnya dibahas sekitar 400 cabang ilmu.
Selain tentang keilmuan, isi kitab ini juga memuat tentang pengalaman pribadi penulisnya semasa belajar dan mengajar, petuahnya dan fatwa-fatwa pribadinya.
Al Imam Ibnu Rajab al Hanbali berkata :
“Ini adalah kitab yang sangat besar. Di dalamnya banyak mengandung faidah yang agung berupa nasihat-nasihat, tafsir, ushuluddin, usul fiqh, ilmu fiqih, nahwu, bahasa Arab, sya’ir, sejarah, kisah-kisah, dan juga pendapat-pendapat serta pengalamannya ketika berada di majelis ilmu. Juga berisi petuah dan ide-ide yang ia tuangkan.”
Salah satu bagian kitab al Funun yang ditemukan dan banyak dinukil di kitab lain adalah perkataan sang pengarang di bagian muqadimahnya :
“Cara terbaik untuk mengisi waktu dan kesibukan seseorang adalah dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhannya lewat jalan menuntut ilmu. Karena dengannya ia akan mengeluarkan dirinya dari kegelapan kebodohan ke cahaya syariat. Itu pula yang aku jadikan sebagai kesibukanku dan yang aku gunakan untuk menghabiskan waktu.
Aku selalu mengkaji berbagai nasihat para ulama yang bersumber dari nilai-nilai Qur’ani dan juga dari pengembaraan spiritual. Lewat majelis-majelis ulama atau tempat kumpul-kumpulnya mereka.
Aku selalu berambisi agar seluruh keutamaan yang ada pada ulama itu bisa aku raih. Sehingga aku terhindar dari kebodohan. Dan semoga dengan upayaku tersebut, aku bisa mendapatkan dari para lelaki sejati itu, meski sebagian saja.
Seandainya saja aku tidak berhasil mendapatkan semua harapan itu, selain aku bisa menjaga waktuku dari memperturutkan nafsu seperti hewan (Hanya makan, tidur, dan berketurunan) itu pun sudah cukup sebagai manfaat yang harus disyukuri.”
Belum ada satu pun sarjana muslim ataupun ulama yang mengaku mengkhatamkan buku ini. Syaikh Hakim An Nakhrawi mengatakan membaca hingga jilid ke-304; Ibnu Jauzi mengaku memiliki kitab itu hanya sampai jilid ke-150; Al Imam Haji hanya sampai jilid ke-400.
Al Funun termasuk perbendaharaan muslimin yang hilang bersama jutaan karya lainnya saat penghancuran Baghdad oleh tentara Mongol.
Hari ini hanya ditemukan beberapa bagian kecil saja, di antaranya yang diterbitkan oleh Darul Masyriq sebanyak dua jilid, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abdul Fatah Abu Ghuddah dalam kitabnya Qaimah az Zaman ‘inda al Ulama’.
Kitam al-Funun bukanlah satu-satunya kitab karangan Imam Ibnu Aqil. Tapi masih ada lagi karangan beliau sebanyak 20 judul karangan yang telah beliau susun, di antaranya adalah kitab al Jadal ala Tariqat al Fuqaha, kitab al Fushul, Kifayat al Mufti, Umadah al Adillah, al Mufradat at Tadzkirah, al Isyarah, dan al Mantsur al Irsyad.
Banyak orang yang keliru menyatakan bahwa beliau jugalah yang mengisyarah Alfiyah Ibnu Malik, sebuah nadzam nahwu yang sangat terkenal. Padahal Syarah Ibnu Aqil merupakan karya ulama lain yang kebetulan saja namanya sama. Beliau adalah Abdullah bin Abdurrahman, ulama Syam yang wafat tahun 769 H, sangat jauh dengan Ibnu Aqil Al-Hanbali yang wafat tahun 513 H.
Pada masa mudanya, beliau sempat terpengaruh dengan pemikiran sesat mu’tadzilah dibawah asuahn Ali bin Walid. Karena kecerdasannya yang luar biasa, tidak ada seorang pun yang bisa berdebat dengan beliau. Lalu beliau bertaubat dan kebali ke jalan Ahlusunnah wal jama’ah, berkata Ibnu atsir rahimahullah : “dimasa mudanya ia sempat sibuk dengan mazhab mu’tazilah asuhan Ali bin Walid. Sehingga kalangan Hanabillah ingin membunuhnya. Lalu ia meminta perlindungan kepada pemerintah selama beberapa tahun, hingga ia menyatakan taubatnya.
Ibnu Hajar Asqalani berkata : Beliau ini termasuk ulama besar. Memang benar, dulunya Ibnu Aqil penagnut faham mu’tazilah. Akan tetapi, beliau telah menyatakan diri bertaubat. Taubatnay pun sungguh-sunguh. Bahakn, beliau menulis kitab untuk membantah kaun Mu’tazilah.
Saat menyatkan taubat, sang imam mengundang begitu banyak orang termasuk para ulama dari berbagai mazhab untuk menyaksikan pertaubatannya tersebut seraya berkata :
"Aku berserah kepada Allah dengan berlepas diri dari pemahaman bid'ah Mu'tazilah dan pemikiran semisalnya. Dan dari mengikuti para tokohnya, dari mengagungkan pengikutnya. Aku bertaubat kepada Allah atas apa yang pernah aku tulis itu. Maka aku tidak membolehkan siapa pun untuk menyalinnya, membacanya atau menjadikannya sebagai rujukan pemahaman." (Dzail Tabaqat al-Hanabilah (1/322)]
Apa yang beliau lakukan menunjukkan kebeningan hati, ketawadhu'an dan sikap yang kesatria. Beliau menyatakan dengan terus terang ketergelincirannya tanpa gengsi, demi agar orang-orang tidak mengikuti kesalahan yang beliau lakukan. Padahal, jika dibandingkan dengan sekarang ini, bisa jadi kesalahan beliau itu tidak akan dianggap oleh kebanyakan orang. Dan bagi pelakunya, cukup ngeles sedikit, terjagalah harga diri. Berkata Ibnu Hajar Al-Asqalani:
"Dan sungguh benar taubatnya dan ia menyusun tulisan untuk membantah pemahaman mereka (Mu'tazilah). Dan telah menyanjungnya ulama di zamannya dan juga zaman setelahnya." [Lisanul Mizan (4/243)]
ini hanya sebagian kecil dari biografi beliau
SELESAI
