Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

FOMO atau Taqwa? Saat Semua Orang Berlari Mengikuti Tren

 Bijak Bermedia, Bijak Menjaga Iman.

Layar boleh di tangan, tetapi jangan sampai hati dikendalikan olehnya.

Pernahkah Anda membuka media sosial hanya lima menit, tetapi akhirnya menghabiskan satu jam? Setelah itu muncul perasaan aneh: hidup orang lain terlihat lebih menarik, lebih sukses, lebih bahagia. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dan merasa tertinggal.

Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO)—rasa takut ketinggalan tren, informasi, atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.

Bagi banyak remaja, FOMO bukan lagi sekadar istilah. Ia telah menjadi gaya hidup. Takut tidak mengikuti tren terbaru, takut tidak dianggap gaul, bahkan takut kehilangan eksistensi di media sosial.

Namun, pernahkah kita bertanya apakah semua yang sedang ramai benar-benar layak diikuti?

Ketika Tren Menjadi Standar Kehidupan

Media sosial membuat kita melihat potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan liburan, prestasi, barang baru, hingga pencapaian yang tampak sempurna.

Tanpa disadari, kita mulai mengukur kebahagiaan dengan standar yang dibuat manusia. Kita berlomba menjadi yang paling viral, paling populer, atau paling banyak mendapat pengakuan.

Padahal, Allah telah memberikan arah perlombaan yang sesungguhnya. Allah Ta'ala berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."(QS. Al-Baqarah: 148)

Ayat ini mengingatkan bahwa perlombaan yang paling berharga bukanlah mengejar popularitas, melainkan berlomba dalam kebaikan. Sebab tren akan terus berganti, tetapi setiap amal saleh akan tetap bernilai di sisi Allah.

Islam Mengajarkan Fokus, Bukan Ikut Arus

Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan umatnya untuk sibuk mencari pengakuan manusia. Beliau justru membimbing umatnya agar memiliki tujuan hidup yang jelas dan prinsip yang kokoh.

Seorang Muslim tidak diukur dari seberapa banyak pengikutnya di media sosial, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain dan seberapa dekat hubungannya dengan Allah.

Karena itu, jangan biarkan hidup kita dikendalikan oleh algoritma media sosial. Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman, bukan sekadar timeline yang terus berubah.

Tanda-Tanda FOMO Mulai Menguasai Hati

Coba renungkan, apakah beberapa hal berikut pernah kita alami?

  • Gelisah ketika tidak membuka media sosial.
  • Merasa hidup orang lain selalu lebih baik.
  • Memaksakan diri mengikuti tren meski tidak bermanfaat.
  • Lebih takut ketinggalan berita viral daripada ketinggalan shalat berjamaah.
  • Mencari validasi manusia lebih daripada ridha Allah.

Jika jawabannya "ya", mungkin sudah saatnya kita mengevaluasi kembali arah hidup kita.

Cara Keluar dari FOMO

Mengatasi FOMO bukan berarti meninggalkan teknologi, tetapi menggunakannya dengan bijak.

Batasi waktu bermain media sosial. Jangan biarkan layar mengendalikan hidupmu.

Perbanyak membaca Al-Qur'an dan berzikir. Hati yang dipenuhi kalam Allah tidak akan mudah gelisah karena urusan dunia.

Syukuri apa yang dimiliki. Fokus pada nikmat yang Allah berikan akan membuat hati lebih tenang daripada terus membandingkan diri dengan orang lain.

Pilih lingkungan yang baik. Bertemanlah dengan mereka yang mengajakmu kepada ilmu, akhlak, dan ibadah.

Taqwa Tidak Pernah Ketinggalan Zaman

Dunia akan selalu menawarkan tren baru. Hari ini sesuatu menjadi viral, besok sudah dilupakan. Popularitas bisa hilang dalam sekejap, dan pengakuan manusia tidak pernah benar-benar memuaskan.

Namun, ketakwaan tidak pernah kehilangan nilainya.

Amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap bernilai, meskipun tidak pernah menjadi viral di mata manusia.

Penutup

Menjadi remaja Muslim bukan berarti harus menjauhi perkembangan zaman. Kita boleh belajar teknologi, aktif di media sosial, berkarya, dan berprestasi. Namun, jangan sampai semua itu membuat kita lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya.

Mari ubah cara kita berlomba. Bukan lagi berlomba menjadi yang paling terkenal, melainkan menjadi yang paling bermanfaat. Bukan berlomba mencari pujian manusia, tetapi mengejar ridha Allah.

Karena pada akhirnya, bukan mereka yang paling banyak mengikuti tren yang akan menjadi pemenang, melainkan mereka yang paling cepat menjawab seruan Allah:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

"Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebajikan." (QS. Al-Baqarah: 148).