Ketika Pesantren Dinilai dari Sampul, Bukan dari Isinya
THE COVER OF THEORY
Bantahan Opini “Pesantren sebagai Tempat Anti-Modernitas dan Kelamnya Pendidikan”
Oleh: Goresan Pena
Di kala pesatnya perkembangan teknologi, canggihnya alat-alat komunikasi, dan mudahnya fasilitas, negara-negara elit seperti Rusia, Jepang, dan Amerika telah mengambil langkah yang sangat besar dalam meningkatkan kompleksitas negaranya agar berbagai kemudahan bisa dirasakan. Bahkan, beberapa tugas manusia sekarang sudah digantikan oleh robot dan AI.
Tak terlepas dari itu, negara adidaya seperti Cina tak lupa untuk menekan setiap warganya dalam menekuni setiap disiplin ilmu agar kemiskinan berpikir tidak berakar, disebabkan oleh ketinggian teknologi bermotif daun kelalaian yang berujung pada runtuhnya kecerdasan. Bahkan, negara yang diserang bom “Little Boy” kiriman Amerika melakukan gebrakan besar dalam dunia pendidikan dengan mencari guru-guru yang tersisa.
Namun, ironisnya, sebuah negeri yang katanya akan menjadi negara emas, pemenang peringkat satu sebagai negara dengan perkembangan ekonomi terbesar, bahkan mengalahkan Cina, memiliki masalah serius di bidang pendidikan dan literasi yang mengakibatkan tumpulnya sebuah kritisan yang berujung pada praktisnya pengambilan kesimpulan, tetapi salah layaknya sebuah peluru nyasar: cepat, tetapi tanpa akurasi yang tepat. Semuanya hanya nol!
Di antara kekeliruan yang banyak terjadi ialah klaim pesantren sebagai wadah anti-modernitas dan pendidikan yang buruk. Tidak sedikit orang tua yang enggan memasukkan anak yang menjadi manifestasi orang tua itu sendiri ke pesantren dikarenakan doktrin samar tanpa adanya penelusuran secara intensif.
Doktrin ini berasal dari satu atau lebih orang yang mencantumkan beberapa alasan yang menyudutkan pihak pesantren. Padahal, hal tersebut juga terdapat pada sekolah-sekolah formal lainnya. Alasan-alasan tersebut hanya terjadi pada sebagian pesantren atau ada oknum-oknum tertentu yang merusak citra pesantren. Alasan-alasan yang sering dijadikan bahan doktrin tersebut ialah:
1. Kasus Kekerasan dan Perundungan (Bullying)
Tindakan kekerasan maupun verbal, termasuk senioritas yang melampaui batas, menyebabkan trauma pada santri. Padahal, hal ini sudah lebih sering terjadi, bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan sekolah formal pada umumnya.
2. Budaya Ta'zir yang Berlebihan
Sistem hukuman (ta'zir) yang diterapkan kadang dianggap tidak mendidik, terlalu keras, dan tidak adil. Padahal, hal ini terjadi pada sebagian dayah karena oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga berimbas ke almamater lainnya.
3. Pelecehan Seksual
Kasus pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren menjadi salah satu isu paling serius yang merusak citra pesantren.
4. Sarana Radikalisme dan Intoleransi
Adanya kekhawatiran sebagian pihak mengenai pesantren sebagai tempat penyebaran ideologi radikal dan intoleran.
5. Kekacauan Tradisi
Beberapa pihak menganggap mencium tangan atau merunduk di depan guru sebagai budaya feodal.
6. Pembingkaian Media
Tayangan atau berita yang dianggap menghina, menyudutkan, atau memberi gambaran negatif.
Alasan-alasan tersebut hanya terdapat pada sebagian pesantren atau ada oknum-oknum tertentu yang merusak citra pesantren sendiri. Namun, alasan ini malah dijadikan untuk mewakili seluruh pendidikan yang terkait.
Perlu kita ketahui, yang menjadi santri dan guru ialah manusia. Jadi, wajar bila mereka berbuat salah. Di sisi lain, pesantren adalah wadah untuk menciptakan orang baik; bukan isinya yang pasti baik. Jadi, mungkin saja ada beberapa yang tidak tercipta dengan baik secara sempurna.
Adapun doktrin pesantren anti-modernitas bermuara pada pendidikan santri yang masih bersandar pada kitab klasik yang berkesan kuno dan ketinggalan zaman di tengah masa yang serba digital. Padahal, kitab-kitab tersebut mampu menyajikan pelajaran yang sebanding dengan mata pelajaran kuliah, di antaranya: mantik (ilmu logika), nahwu (grammar of Arabic), bayan (ilmu linguistik), dan masih banyak lagi.
Di sisi lain, santri Indonesia pada tahun ini sukses mengukir prestasi di luar disiplin ilmu agama, seperti:
Ekonomi dan karya tulis
Santri MAI Amanatul Ummah berhasil menjadi juara umum di NEEC dan meraih juara 1 dan 2 di kampus STIE.
Sains
Medali emas dan perunggu diraih dalam Olimpiade Sains Al-Azhar (OSA) 2026.
Santri Pesantren BEQI meraih penghargaan nasional dengan inovasi mengolah limbah jelantah menjadi produk bernilai ekonomi.
IPS
Medali perunggu pada Madrasah Integrated Science Competition (M-ISEO) 2026 bidang IPS.
Seni dan literasi
MAN 1 Lampung Timur mengukir prestasi dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2026.
Fisika
Pesantren Al-Azhar Asy-Syarif di Sumatera Utara, melalui inovasi produk herbal antibakteri, meraih medali emas.
Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa klaim ataupun doktrin buruk tentang pesantren ini muncul karena mereka hanya menilai dari luar atau sampul saja. Standar pemikiran yang rendah membuat mereka menganut paham THE COVER OF THEORY (teori hanya dari luar).