Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Rindu Membuat Sebatang Kurma Menangis





"Bahkan kayu pun merindukan Rasulullah ﷺ."

    Di tengah Madinah yang sederhana, di antara suara langkah para sahabat dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, pernah terjadi sebuah peristiwa yang begitu sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.

    Tidak ada pedang yang terhunus. Tidak ada peperangan. Tidak ada gemuruh pasukan. Hanya sebuah batang kurma. Namun, batang kurma itu pernah menangis ketika Rasulullah ﷺ tidak lagi berdiri di atasnya.

   Peristiwa itu menjadi salah satu kisah yang begitu indah dalam sirah Nabi ﷺ. Sebuah kisah yang memperlihatkan bagaimana Allah ﷻ menunjukkan tanda kebesaran-Nya melalui sesuatu yang bagi manusia hanyalah benda mati.

  Tetapi lebih dari sekadar kisah mukjizat, peristiwa itu seakan menjadi sebuah cermin bagi kita.

  Jika sebatang kayu saja menangis karena kehilangan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, bagaimana dengan hati kita yang mengaku mencintainya?

    Sebatang Kurma yang Menjadi Saksi

  Sebelum memiliki mimbar, Rasulullah ﷺ biasa berdiri di dekat sebuah batang kurma ketika menyampaikan khutbah kepada para sahabat.

  Batang itu menjadi bagian dari keseharian beliau. Di sana Rasulullah ﷺ berdiri. Di sana beliau menyampaikan nasihat. Di sana para sahabat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan ajaran Islam langsung dari lisan beliau.

  Hari demi hari, batang kurma itu menjadi saksi kedekatan Rasulullah ﷺ dengan umatnya.

    Hingga suatu hari, jumlah kaum Muslimin semakin bertambah. Para sahabat kemudian membuatkan sebuah mimbar untuk Rasulullah ﷺ agar beliau dapat berdiri lebih tinggi ketika berkhutbah dan suara beliau lebih mudah didengar oleh jamaah.

   Rasulullah ﷺ kemudian naik ke atas mimbar. Beliau tidak lagi berdiri di tempat biasanya. Secara manusiawi, tidak ada sesuatu yang aneh. Beliau hanya berpindah beberapa langkah. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi.

   Batang kurma yang selama ini menjadi tempat Rasulullah ﷺ berdiri tiba-tiba mengeluarkan suara. Ia menangis seperti tangisan seorang anak kecil.

  Para sahabat yang berada di dalam masjid mendengarnya. Rasulullah ﷺ kemudian turun dari mimbar dan mendatangi batang kurma tersebut. Beliau memeluknya hingga suara tangisan itu berhenti.

    Rasulullah ﷺ bersabda bahwa batang kurma itu menangis karena kehilangan apa yang biasa didengarnya berupa zikir di dekatnya.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَى شَجَرَةٍ أَوْ نَخْلَةٍ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ ـ أَوْ رَجُلٌ ـ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَجْعَلُ لَكَ مِنْبَرًا قَالَ ‏"‏ إِنْ شِئْتُمْ ‏"‏‏.‏ فَجَعَلُوا لَهُ مِنْبَرًا، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَصَاحَتِ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ، ثُمَّ نَزَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَضَمَّهُ إِلَيْهِ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ، الَّذِي يُسَكَّنُ، قَالَ ‏"‏ كَانَتْ تَبْكِي عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ عِنْدَهَا ‏"‏‏.‏

Pada hari Jumat, Nabi ﷺ biasa berdiri bersandar pada sebatang pohon atau batang pohon kurma. Lalu, seorang wanita atau pria dari kaum Anshar berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ! Bolehkah kami membuatkan mimbar untuk Anda?” Beliau menjawab, “Jika kalian mau.” Maka mereka pun membuatkan mimbar untuk beliau. Ketika tiba hari Jumat, beliau berjalan menuju mimbar tersebut untuk menyampaikan khotbah. Batang pohon kurma itu pun menangis seperti suara tangisan anak kecil. Nabi ﷺ turun dari mimbar lalu memeluknya, sementara batang pohon itu terus merintih layaknya anak kecil yang sedang ditenangkan. Nabi ﷺ bersabda, “Ia menangis karena kehilangan apa yang biasa didengarnya berupa zikir di dekatnya.”

    QS. Āli ‘Imrān [3]: 31

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ٣١

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”