Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertanyaan Hebat Dalam Hidup


oleh: nsrurelhasyimiy

Pernahkah kita bertanya untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia ini? Saat kita merasa bahwa diri kita ini tak ada artinya, mungkin pertanyaan ini sering mengusik pikiran kita. Terkadang kita sering menjauh, mencoba berlari dari pertanyaan itu. Tapi apakah itu membantu menjawab? Tidak. Lari dari kenyataan bukanlah jawaban. Maka hari ini, tulisan ini akan memberikan sedikit renungan mengenai pertanyaan itu. Dan barangkali juga akan menjadi jawaban.

Satu hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang sia-sia. Apa pun yang terjadi di siklus kehidupan ini, semuanya ada artinya. Percayalah pada itu. Karena dalam hidup, ada yang disebut sebagai sebab-akibat. Kita menjadi sebab bagi orang lain. Orang lain menjadi sebab bagi orang lainnya lagi. Hingga pada siklus yang kesekian ribu, mungkin sebab-akibat itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

Bayangkan ada seorang Arab Badui yang tinggal di sebuah oasis gurun pasir. Sebuah tempat yang jauh dari peradaban manusia. Arab badui itu pun sakit-sakitan. Tak banyak yang bisa ia lakukan. Setiap hari ia hanya berbaring di atas tempat tidurnya. Bahkan saat datang krisis pangan, saat orang lain mulai pergi dari oasis itu, mencari tempat yang lebih layak untuk ditinggali, ia tetap tak bisa ke mana-mana karena sakit yang dialaminya. Sampai akhirnya, ia meninggal dalam keadaan belum mendapat jawaban atas pertanyaannya, yaitu untuk apa ia hidup.

Namun, beberapa tahun kemudian, sebuah rombongan musafir melintasi bekas oasis itu. Mereka mampir sebentar untuk mengisi persediaan air. Tak banyak yang tersisa dari kemah-kemah itu. Beberapa bahkan sudah terbawa angin. Tidak ada lagi kehidupan di sana. Rombongan musafir itu sempat mengintip ke salah satu kemah yang tersisa. Di situlah tulang belulang dari Arab Badui itu ditemukan. Masih berbaring di atas ranjangnya. Tidak ada seorang pun dari rombongan musafir itu yang peduli. Toh hanya tulang belulang. Rombongan musafir itu pun memutuskan untuk pergi, melanjutkan perjalanan mereka.

Namun, di antara para musafir itu, ada seorang pemuda yang peduli pada tulang belulang itu. Ia memutuskan untuk menguburkan tulang belulang itu, memilih untuk tertinggal dari rombongannya. Setelah menguburkan tulang belulang itu, ia melanjutkan perjalanan, menyusul kembali rombongannya. Sayang sekali, rombongannya tadi sudah tiada. Rupanya mereka melewati sebuah tempat yang sedang berkecamuk peperangan. Rombongan musafir itu hanya menyisakan mayat yang tak berdaya, terkapar di tengah gurun pasir. Lalu bagaimana dengan pemuda yang tertinggal tadi? Ia selamat. Dan ternyata, lima keturunan dari pemuda yang tersisa itu, lahirlah seorang pemuda tangguh, sang pembawa risalah yang kelak akan disebut orang-orang Al-amin.

Coba bayangkan jika Arab Badui yang tinggal di oasis itu tidak sakit-sakitan. Mungkin seorang pemuda dari rombongan musafir itu tidak akan tertinggal dari rombongannya. Lalu bagaimana nasib sang pembawa risalah itu?

Apakah kisah ini benar? Tidak. Tapi mungkin saja. Yang penting dari kisah tadi bukan benar atau tidaknya. Tapi kita harus bisa mengambil pelajaran bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Bahkan di saat kita tak memahami makna hidup ini seperti Arab Badui pada cerita tadi, hidup ini tetap bermakna. Arab badui itu menjadi sebab bagi si pemuda. Dan si pemuda menjadi sebab bagi Sang Pembawa Risalah.

Ada juga sebuah pertanyaan yang rasanya setiap orang pernah mempertanyakan dalam hidupnya. Bahkan, ribuan tahun yang lalu, saat dua orang yang mulia melakukan perjalanan hebat, salah satu dari mereka juga mempertanyakan itu. Pertanyaan: Apakah hidup ini adil?

Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi kita kan merenungkan sedikit gambaran tentang pertanyaan itu. Bayangkanlah dua orang anak yang sangat berbakat. Yang satu jago melukis, yang satu memiliki suara yang aduhai. Lukisan yang dibuatnya dipuji oleh orang banyak. Sangat indah, menyejukkan mata saat melihatnya. Suara dari anak yang satunya juga luar biasa. Kalau dia jadi pengamen, uang seratus ribu pun mau diberikan orang untuknya.

Hingga suatu hari, anak itu ingin menjual lukisannya ke museum. Sudah rapi sekali dia hari itu. Lukisannya dia gulung. Diikatnya dengan tali yang bagus. Anak yang satu lagi juga akan masuk semifinal acara pencarian bakat bernyanyi. Mereka berdua jalan berbarengan menuju tempat yang akan memperindah masa depan mereka berdua.

Tapi sayang, di tengah perjalanan ke tempat tujuan, mereka berdua dipalak oleh preman jalanan. Mereka tak punya uang. Yang mereka punya hanya lukisan dan gitar. Tentulah tak mau mereka menyerahkan itu. Benda itu akan menentukan masa depan mereka. Tapi apa daya? Preman itu memukul dua anak yang malang itu. Dirobeknya lukisan itu. Anak itu tak bisa melawan. Badannya kecil. Beda jauh dengan badan preman yang memukulnya. Anak yang satunya lebih parah lagi. Gitar yang dia bawa itu dibantingkan ke wajahnya. Darah bercucuran dari pelipisnya. Seketika ia tak sadarkan diri. Dan dengan luka yang didapatnya dari kejadian itu, anak itu kehilangan suara emasnya. Tak bisa lagi ia bernyanyi. Bahkan ia sudah tak bisa berjalan. Harus menggunakan kursi roda.

Kalau kita melihat dari sudut pandang kita, dunia ini sangat tidak adil. Tuhan itu tidak adil. Ia menghancurkan masa depan dua orang anak yang tidak bersalah; ia menghancurkan masa depan dua anak yang lemah tak berdaya. Tapi ingatlah bahwa mata kita terlalu sedikit untuk memandang takdir Tuhan yang begitu luas. Pikiran kita juga terlalu sempit untuk memahami hikmah di dalam setiap cobaan yang diberikan Tuhan. Kita hanya bisa melihat bagian dhahir dari sebuah kejadian. Kita tak bisa melihat dari sudut pandang yang lebih dalam,

Pada kejadian itu. Sebenarnya, kalaupun anak yang pandai melukis itu membawa lukisannya ke museum, lukisan itu tak akan diterima. Dan selebihnya, ia akan diolok-olok di sana hingga mentalnya hancur, dan dia tak akan sanggup untuk mengembangkan bakatnya lagi. Jatuh mentalnya. Bagus memang lukisannya. Tapi terlalu terburu-buru kalau menyimpulkan bahwa lukisan itu akan diterima di museum. Tuhan tahu semua kejadian itu. Makanya ia mengirim preman untuk menghancurkan lukisan itu. Dan hasilnya, anak itu kembali berusaha mengembangkan bakatnya. Hingga pada saat dia meninggal, lukisannya dipajang di banyak tempat. Lelangannya tembus ratusan juta. Dan dari kejadian itu, dia belajar untuk melukis dengan ikhlas. Ia tak lagi menuliskan namanya di sudut lukisannya. Tak ada lagi ambisi untuk dikenal. Hingga saat ia meninggal, tak seorang pun mengenalinya, tapi lukisannya mendunia.

Dan anak yang memiliki suara yang indah itu. Sebenarnya, kalaupun ia mengikuti ajang pencarian bakat itu, ia tak akan menang. Uangnya hanya akan habis untuk mendaftar masuk ke grand final. Ia tak akan menang. Dan saat itu terjadi, ia akan kehilangan semangat hidupnya. Hartanya sudah habis untuk biaya pendaftaran. Tapi setelah kejadian mengenaskan itu. Dia kembali memulai hidup baru. Ia memang tak akan menjadi penyanyi lagi. Tapi ia memulai hidup barunya dengan menulis. Ia menulis lagu dengan lirik yang begitu menyentuh. Karena sejak awal, ambisinya bukanlah untuk menjadi penyanyi. Tapi ia ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan pengaruh terhadap orang lain. Menyanyi hanyalah salah satu jalan. Bukan satu-satunya. Akhirnya, ketika anak itu dewasa, ia mendapatkan apa yang ia mau. Lirik lagu yang ia tulis berhasil membuat hati para penyanyi hebat terpukau dan membuat mereka memutuskan untuk membeli lagu yang ia tulis. Ia mendapatkan masa depannya. Bukan dengan cara yang ia mau. Bukan dengan cara yang orang-orang mau. Tapi cara yang jauh lebih baik, yaitu cara yang Tuhan mau.

Kejadian ini hampir sama dengan kejadian ribuan tahun yang lalu, saat dua orang yang mulia itu melakukan sebuah perjalanan hebat. Saat salah satu dari orang yang mulia itu melubangi sebuah kapal milik orang yang tidak berdosa, saat salah satu dari orang yang mulia itu membunuh seorang anak kecil yang suci, saat salah satu dari orang yang mulia itu merobohkan sebuah tembok tanpa alasan yang jelas, pertanyaan itu mengusik pikiran orang yang mulia yang berdiri di sampingnya.

Cerita tentang dua anak kecil di atas juga tidak benar adanya. Tapi semua cerita itu bisa kita jadikan bahan refleksi bahwa Tuhan itu maha adil. Kita, makhluk yang terbatas, tak akan sanggup menilai keadilan Tuhan.