Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

khalid bin walid : sang panglima tak terkalahkan

Jenderal perang Islam dengan 99%  Win Rate kemenangan


Di tengah gurun yang tandus dan luas, kota Mekah berdiri sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan bangsa Arab. Di kota inilah lahirlah seorang anak yang kelak akan menjadi panglima perang hebat dalam sejarah Islam. Dia bernama Khalid bin Walid, putera dari pemuka kaum Quraisy bernama Walid bin Mughirah.

Sejak kecil, ia dididik oleh ayahnya untuk menjadi pria yang gagah dan pemberani. Apalagi, pada masa itu banyak kabilah atau suku saling berperang untuk membesarkan pengaruh sukunya dan pecah-belah untuk menentukan suku mana yang paling kuat dan tangguh. Ternyata, suku yang paling kuat kala itu adalah suku Quraisy. Ayahnya, sebagai pemuka dan orang yang berpengaruh, ingin mendidik anaknya agar menjadi kesatria dalam peperangan.

Waktu kecilnya, ia dididik oleh ayahnya seperti rusa yang diterkam oleh harimau. Ia selalu terancam oleh aturan, selalu merasa lemah karena tidak dapat membantah,selalu dalam keadaan susah karena tujuannya seperti langit yang jauh sekali jika dipandang dan tinggi sekali jika dipanjat. Higga,sedikit demi sedikit aturan yang diterapkan menjadi kebiasaan dalam keseharian. Maka, jangan ditanya lagi kenapa Khalid bin Walid begitu kuat. Ya, begitulah kira-kira hidupnya waktu kecil.

Ketika Khalid bin Walid ingin beranjak dewasa, ia sudah tangguh dan kuat dalam menghadapi siapa pun yang menghalanginya. Dan juga dengan IQ-nya yang tinggi, ia mampu menyusun strategi untuk menghancurkan perisai musuh . Memusatkan serangan pada satu titik hingga membuat banyak tentara dalam pertempuran kalah. Walaupun jumlah kekuatan mereka lebih unggul . Jika dikombinasikan kekuatan dan kecerdasan dalam pertempuran, begitulah yang terjadi, dan strategi inilah yang selalu dilakukan Khalid bin Walid.

Di saat agama Islam berkembang, Khalid bin Walid termasuk orang yang aktif dalam mendukung kaum musyrikin. Terlihat saat ia tampil di Perang Badar, perang pertama dan terbesar pada masa itu. Ada 1000 pasukan bersenjata lengkap berangkat melaan 313 pasukan eadanya. Tetapi anehnya, meskipun ia mati-matian mendesak pasukan Muslimin agar kocar-kacir, malah kawan-kawannya yang tumbang satu per satu seperti ada senjata ghaib yang menebas kawannya. Ia pun mundur, mengakui kekalahannya, dan kembali dengan kehilangan banyak pemuka Quraisy yang ditinggal di medan tempur, yang saat dilihatnya sama sekali tidak merespons gerakan apa pun. Dia pun sadar bahwa kaum muslimin memang kalah jumlahnya, tapi unggul dalam tekad dan keyakinan mereka. Mereka rela menyerahkan nyawa agar dapat yhid di jalan Allah. Di situlah taufik dari Sang Maha Pencipta yang pertama.

Di saat teman lamanya menuliskan sepucuk surat untuknya dengan isi “Assalamualaikum wr wb, Alhamdulillah rabbil alamin, segala puji bagi Allah yang telah membuat saya masih sehat dan sejahtera.Adapun tujuanku menulis surat ini karena aku tidak mengetahui keberadaanmu, jadi datanglah wahai temanku menemuiku di Yasrib, aku menuggu kedatanganmu dan kita sama-sama menemui Rasulullah karena beliau merasakan cahaya taufik masuk ke dalam jiwamu. Rasulullah juga pernah berbincang-bincang denganku tentangmu ‘masa orang yang hebat seperti Khalid tidak menerima islam, padahal kalau dia menerimanya dia bisa menguatkan kaum muslimin untuk berjihad di jalan Allah’ cepatlah wahai kawanku, aku sudah lama menunggu menuju gerbang taufik, Wassalamualaikum wr wb”. Begitulah isi surat tersebut, Khalid pun merasakan gembira karena surat itu berisi percakapan bukti Rasulullah menyayanginya. Ia pun merencanakan keberangkatan menuju Yasrib untuk menemui Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya.

Pada malam itu, ia bepergian sendiri menembus Padang Sahara yang begitu luas untuk satu tujuan: ISLAM. Di tengah perjalanannya, ia menemui Amr bin Ash lalu Usman bin Thalhah yang sama tujuannya. Mereka pun menelusuri Padang Sahara, berjalan berliku-liku, sehingga sampailah ke rumah temannya. Temannya mengatakan kalau Rasulullah mengetahui kedatanganmu,ia pun merasakan kesenangan yang amat dalam dan ingin bergegas segera ke rumah Rasul. Saat ia sampai, ia sudah disambut oleh kerumunan orang-orang yang ingin melihatnya masuk Islam. Ketika Khalid mengucapkan “Ashadu anla illa haillaAllah wa ashadu anna muahmmadarrasulullah”, hati orang-orang yang mendengarnya terasa terhanyut dalam derusan kalimat syahadat yang Khalid bin Walid lantunkan di depan Rasulullah. Itulah pertama kali ia merasakan Islam di dalam hatinya bersama orang yang hadir. 

Kecemerlangan Khalid bin Walid banyak sekali digunakan untuk kepentingan Islam. Misalnya, pada perang Mu’tah, ia menggunakan senjata itu, yaitu idenya yang dapat membuat lebih dari 200.000 tentara Romawi berlari kocar-kacir. Entah ke mana tujuannya dengan hanya melawan 2.000 tentara Muslim. Jika dibandingkan, kaum Muslim harus mempunyai tentaranya 100 kali lebih banyak baru bisa menyamai jumlah tentara Romawi. Gak masuk logika kan… Juga dalam perang melawan pasukan kaum murtad yang dipimpin oleh Musailamah Al-Kazhab dengan 50.000 tentara, ditambah benteng kokoh yang tinggi sehingga tidak bisa dipanjat oleh 20.000 tentara kaum muslimin. Tapi dengan tekad kaum muslimin, mereka menghancurkan benteng dan masuk hingga menewaskan lebih dari 20.000 tentara musuh di dalamnya. Salah satunya adalah pemimpinnya sendiri yang dibunuh langsung oleh Khalid bin Walid. Juga perang Yamamah: 150.000 pasukan musuh melawan kurang dari 50.000 pasukan Islam. Tapi entah bagaimana jantung pertahanan Romawi itu hancur. Hanya Khalid dan satu kudanya menembus benteng itu. Dan banyak lagi jasanya untuk Islam yang tidak cukup ditulis di tulisan ini.

Di saat ajal ingin menjemputnya ia menyempatkan berkata “aku telah membuat banyak musuh lari di medan perang, aku juga terjun ke medan perang 150 kali, tidak ada sejengkal pun dari tubuhku kecuali bekasan pedang, tusukan tombak, tancapan anak panah, aku ingin bercita-cita syahid di jalan Allah, tetapi inilah sekarang keadaanku terbaring di ranjang seperti unta yang ingin mati saja” Khalid bin Walid meninggal karena sakit parah. Padahal, Khalid ingin sekali bercita-cita syahid di jalan Allah seperti sebagian sahabatnya yang telah mendahuluinya di medan tempur sebelumnya. Khalid bin Walid wafat meninggalkan banyak sekali cerita yang sangat sulit untuk ditiru. Selamat jalan wahai panglima, engkaulah panglima yang sangat terbaik di antara panglima terbaik.