Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Dunia Terlalu Sibuk, Al-Qur'an Mengingatkan Jalan Pulang


 

Mengejar Dunia Tanpa Melupakan Akhirat: Relevansi QS. Al-Mulk Ayat 15 di Era Digital
Di Tengah Ramainya Dunia, Dengarkan Panggilan Langit.

Bagaimana jika malam ini adalah malam terakhir kita di dunia? Akankah tumpukan pekerjaan yang belum selesai, target yang terus dikejar, rapat yang silih berganti, atau angka-angka yang memenuhi rekening menjadi bekal yang mampu menyelamatkan kita ketika berdiri di hadapan Allah SWT?

Kita hidup pada zaman yang bergerak begitu cepat. Dunia seolah tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti. Layar-layar gawai menyala sejak fajar hingga larut malam, notifikasi datang tanpa jeda, dan manusia berlomba menjadi yang paling produktif, paling dikenal, dan paling berhasil. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu suara yang perlahan tenggelam—suara yang mengingatkan bahwa setiap langkah yang kita ayunkan sesungguhnya sedang mengantar kita menuju satu tujuan yang pasti: kepulangan kepada Allah SWT.

Ironisnya, semakin maju teknologi, semakin mudah pula manusia melupakan hakikat hidupnya. Dunia yang seharusnya menjadi ladang amal perlahan berubah menjadi tujuan akhir. Kesuksesan diukur dari jabatan, kekayaan, dan popularitas, sementara nilai sebuah kehidupan di sisi Allah sering kali terlupakan. Padahal, tidak ada satu pun pencapaian dunia yang dapat memperpanjang usia atau menunda datangnya kematian.

Di tengah realitas tersebut, Al-Qur'an menghadirkan sebuah ayat yang sederhana, tetapi sarat makna:

"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu akan kembali."
(QS. Al-Mulk [67]: 15).

Sekilas, ayat ini tampak sebagai dorongan untuk bekerja, menjelajahi bumi, dan memanfaatkan segala potensi yang Allah sediakan. Karena itu, tidak sedikit ulama yang menjadikannya sebagai landasan etos kerja, produktivitas, bahkan pengembangan ekonomi Islam.

Namun, Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengajak pembaca berhenti sejenak pada penutup ayat tersebut. Menurut beliau, inti pesan ayat ini justru terletak pada kalimat "Dan hanya kepada-Nyalah kamu akan kembali." Seolah-olah Allah sedang berfirman, "Silakan engkau bekerja, berusaha, dan menikmati rezeki-Ku. Jelajahilah bumi seluas yang engkau mampu. Namun, jangan pernah lupa bahwa semua perjalanan itu pada akhirnya akan berakhir di hadapan-Ku."

Kalimat penutup itu mengubah cara pandang seorang Muslim terhadap kehidupan. Dunia bukanlah tujuan, melainkan jalan. Harta bukanlah kemuliaan, melainkan amanah. Jabatan bukanlah kebesaran, melainkan tanggung jawab. Bahkan teknologi yang hari ini begitu dibanggakan hanyalah alat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban: digunakan untuk mendekat kepada Allah atau justru menjauh dari-Nya.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia. Sebaliknya, Islam memerintahkan manusia agar menjadi pribadi yang produktif, bekerja keras, dan memanfaatkan setiap potensi yang Allah anugerahkan. Allah SWT berfirman:

"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."
(QS. Al-Qashash [28]: 77).

Ayat ini menghadirkan keseimbangan yang indah. Dunia tidak untuk dipuja, tetapi juga tidak untuk ditinggalkan. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah musim panen. Maka, setiap tetes keringat yang keluar demi mencari rezeki halal dapat berubah menjadi ibadah apabila diniatkan untuk mengharap ridha Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, seorang pedagang yang jujur, seorang guru yang mengajar dengan ikhlas, seorang petani yang bekerja di sawah, seorang dokter yang melayani pasien, bahkan seorang programmer yang menciptakan teknologi untuk kemaslahatan umat, semuanya dapat memperoleh pahala apabila pekerjaannya dibingkai oleh niat yang benar.

Yang menjadi persoalan bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia mengambil alih singgasana hati. Ketika pekerjaan membuat seseorang lalai dari shalat. Ketika media sosial lebih sering dibuka daripada mushaf Al-Qur'an. Ketika notifikasi lebih cepat dijawab daripada panggilan azan. Saat itulah dunia yang semula hanya berada di genggaman perlahan berpindah menjadi penghuni hati.

Fenomena ini semakin terasa di era digital. Manusia hidup dalam perlombaan yang seolah tidak memiliki garis akhir. Ada yang gelisah karena belum sukses di usia muda. Ada yang kehilangan ketenangan karena sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial. Ada pula yang mengorbankan waktu bersama keluarga demi mengejar target yang terus bertambah. Semua itu melahirkan kelelahan, kecemasan, dan kekosongan batin yang tidak mampu disembuhkan hanya dengan pencapaian materi.

Dalam perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer, sebuah teks tidak berhenti berbicara pada zamannya. Makna Al-Qur'an terus hidup melalui dialog antara teks dan realitas baru. Ketika QS. Al-Mulk ayat 15 dibaca dalam konteks era digital; pesan yang muncul menjadi semakin kuat: manfaatkan kemajuan zaman, jelajahi ilmu pengetahuan, bangun peradaban, kuasai teknologi, dan raihlah rezeki yang halal. Akan tetapi, jangan biarkan semua itu menghapus kesadaran bahwa setiap langkah sedang menuju hari ketika tidak ada lagi jabatan, pengikut, maupun harta yang dapat menyelamatkan selain amal saleh.

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin dunia, melainkan perjalanan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal menuju akhirat. Dunia hanyalah jembatan yang akan kita tinggalkan; jangan sampai kita sibuk menghias jembatan, tetapi lupa menyiapkan rumah tujuan.

Maka, setiap kali kita membuka laptop untuk bekerja, melangkahkan kaki mencari rezeki, atau menggunakan teknologi yang Allah mudahkan, hendaklah terngiang kembali firman-Nya:

"...Dan hanya kepada-Nyalah kamu akan kembali."

Sebab ketika kesadaran akan kepulangan itu tetap hidup di dalam hati, dunia tidak lagi menjadi penjara yang melelahkan. Ia berubah menjadi ladang ibadah, tempat menanam amal, dan jalan yang mengantarkan seorang hamba menuju perjumpaan terbaik dengan Rabb-nya.