Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Maktabah Makkah al-Mukarramah: Jejak Peninggalan Rumah Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ilustrasi Maktabah Makkah al-Mukarramah

oleh: ANAMIL

Di tengah gemerlap gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi Masjidil Haram, tersembunyi sebuah bangunan sederhana berwarna cokelat muda yang menyimpan salah satu kisah paling agung dalam sejarah umat manusia. Bangunan perpustakaan sederhana yang kerap didatangi para pelajar, masyarakat umum, bahkan para jamaah haji atau umrah. Namun, di balik kesederhanaannya, tempat ini diyakini sebagai lokasi kelahiran manusia paling mulia sepanjang masa: Nabi Muhammad SAW.

Menurut sejumlah kitab sirah nabawiyah serta pendapat sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas, Rasulullah SAW diyakini lahir di rumah kakeknya, Abdul Muthalib, sekitar tahun 570 Masehi bertepatan dengan 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Pandangan ini juga dipegang oleh sejarawan Muslim klasik seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishak. Kawasan tempat rumah itu berdiri, dalam catatan sirah, dahulu dikenal sebagai Lembah Abu Thalib . Sebuah wilayah perkampungan keluarga besar Nabi.

Saat itu, Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, telah wafat ketika beliau masih berada dalam kandungan sang ibu, Siti Aminah. Kelak, di rumah inilah tangis pertama seorang bayi yang kemudian menjadi penutup para nabi itu terdengar untuk pertama kalinya .  Sebuah peristiwa yang tanpa disadari banyak orang saat itu akan mengubah wajah peradaban manusia selamanya.

Setelah Nabi hijrah ke Madinah, rumah tersebut sempat dihuni sepupu beliau, Aqil bin Abi Thalib, sebelum berpindah tangan beberapa kali. Kepemilikannya akhirnya jatuh ke tangan Al-Khaizuran, ibu dari Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah, yang kemudian membangun sebuah masjid kecil di lokasi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat bersejarah itu.

Bangunan masjid peninggalan Al-Khaizuran itu belakangan dirobohkan seiring perubahan zaman. Pada 1370 Hijriah atau sekitar 1950 Masehi, Wali Kota Makkah kala itu, Syekh Abbas Qatthan, membangun sebuah perpustakaan umum di atas lahan tersebut menggunakan dana pribadinya. Perpustakaan itu kemudian dikenal dengan nama Maktabah Makkah Al-Mukarramah atau Perpustakaan Makkah dan tetap berdiri hingga hari ini.

Bangunan berukuran sekitar 10 x 18 meter ini terdiri dari dua lantai, bercat cokelat muda dengan jendela cokelat tua, dan berada di kawasan Suq Al-Layl, tak jauh dari Terminal Bab Ali. Di dalamnya tersimpan ribuan manuskrip kuno dan koleksi buku langka yang menjadi bagian dari sejarah literasi Islam, dijaga dan dirawat sebagai warisan intelektual umat.

Otoritas Arab Saudi memilih mengalihfungsikan lokasi ini alih-alih menjadikannya tempat ziarah dengan pertimbangan akidah: mencegah munculnya praktik pengkultusan (tindakan mengagungkan, mengarahkan keyakinan, atau memuja seseorang, benda, maupun tokoh secara berlebihan hingga melampaui batas kewajaran) oleh sebagian umat Islam. Sikap ini tergambar jelas dari papan pengumuman berbahasa Arab, Inggris, Turki, Urdu, dan beberapa bahasa lain yang terpasang di depan bangunan, berisi imbauan bahwa mengunjungi tempat ini bukan bagian dari syariat dan tidak dianjurkan untuk tujuan ibadah maupun pemujaan.

Bahkan, pemerintah Saudi pernah berencana meratakan bangunan ini seiring proyek perluasan Masjidil Haram, mengingat sejumlah bangunan lain di sekitarnya juga ikut dipugar demi kepentingan yang sama. Rencana tersebut akhirnya tidak terealisasi, sehingga bangunan tetap berdiri hingga sekarang sebagai saksi bisu sejarah. Selama musim haji, perpustakaan ini rutin ditutup untuk mencegah kerumunan jemaah yang ingin berkunjung.

Meski begitu, letak pasti rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW sebenarnya masih menjadi perbincangan di kalangan sejarawan hingga kini. Tidak ada catatan tunggal yang secara mutlak memastikan titik koordinatnya. Meski demikian, mayoritas ulama dan sejarawan sepakat bahwa Maktabah Makkah Al-Mukarramah berdiri di atas lokasi yang paling kuat diyakini sebagai rumah keluarga Abdul Muthalib, tempat Rasulullah SAW dilahirkan.

Meski pintunya kerap tertutup rapat dan pengunjung hanya bisa melihat dari luar, lokasi ini tetap menjadi salah satu titik yang ramai didatangi jemaah haji maupun umrah asal berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak yang sekadar ingin berfoto, berdiri sejenak, atau memandangi bangunan yang dipercaya menyimpan jejak awal kelahiran manusia paling berpengaruh dalam sejarah dunia ini. Bagi mereka, berdiri di dekat lokasi ini bukan sekadar wisata religi, melainkan momen untuk merasakan kedekatan batin dengan sosok yang mereka cintai.

Kisah tentang rumah kelahiran Nabi yang kini berubah wujud menjadi perpustakaan sesungguhnya menyimpan pelajaran yang jauh lebih dalam dari sekadar fakta sejarah. Ia mengingatkan kita bahwa kemuliaan sebuah tempat tidak pernah ditentukan oleh bentuk fisik bangunannya, melainkan oleh peristiwa dan manusia yang pernah hadir di dalamnya.

Bukan bangunannya yang membuat sebuah tempat mulia, melainkan kenangan tentang seorang manusia yang kelak akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rumah bisa berubah menjadi perpustakaan; bangunan bisa hilang ditelan zaman. Tapi kisah tentang Rasulullah SAW akan tetap hidup di dalam hati setiap orang yang mencintainya, diwariskan dari generasi ke generasi, hingga akhir zaman.

Begitulah semestinya kita memaknai setiap jejak sejarah Rasulullah SAW: bukan untuk memuja bentuk fisiknya, tetapi untuk merenungkan maknanya dan meneladani akhlaknya. Karena yang benar-benar abadi bukanlah batu bata dan dinding sebuah rumah, melainkan cahaya kenabian yang terus menuntun jalan umat manusia hingga hari ini.


Sumber: rangkuman dari berbagai pemberitaan media (Detikcom, Republika, Viva, NU Online, Madaninews, dan lainnya).