Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENJADI MUSLIMAH YANG BERBAKTI, DI ANTARA DAKWAH DAN VALIDASI

 


oleh:@nsrurelhasyimiy

Di era sekarang, hancur itu lebih mudah daripada bertahan. Tetap bertahan dengan kebaikan menjadi hal yang tak terdengar masuk akal bagi mereka yang tak percaya. Seolah menjadi hal yang akan melawan dunia. Rasa takut untuk berbeda pun terus dipegang nyaman, sehingga membuat diri serasa akan dijatuhkan dari awan. Semua orang berpikir bahwa dunia adalah tempat menimbun cerita, sehingga validasi menjadi perihal utama. Semua lupa bahwa hidup tak serba sentosa. Semasa lamanya, rasa ingin terbang bertumbuh bersama bayang-bayang. Tak peduli kalau terkadang akan terlilit erat oleh perkataan yang menyakitkan. Bahkan saat berada di taman pun, isi kepala terus berseteru dengan keinginan untuk terlihat sebagai bunga terindah. Bahkan saat berada di langit pun, keinginan terus menawar dengan isi kepala untuk berkedip lebih cepat, mengharap banyak mata melihat dari bawah sana. Keinginan yang seharusnya normal mulai menunjukkan bahwa ia adalah perusak moral.

Seorang muslimah yang taat sering dituntut untuk terus menjaga dirinya. Sehingga menciptakan begitu banyak asumsi bahwa seorang muslimah seharusnya tidak memunculkan dirinya di media sosial, membuat dirinya seolah berada di bawah bayang-bayang, sedikit buram. Apakah asumsi itu hanya berupa rabun jauh atau benar-benar nyata, seolah terkena panasnya cahaya matahari?


Benar bahwa seorang muslimah itu harus menjaga dirinya. Terlebih lagi di era sekarang yang segala hal bisa dilakukan dengan kecanggihan teknologi, ditambah dengan orang-orang tak bertanggung jawab yang mempergunakan kecanggihan itu untuk memuaskan nafsunya. Adanya orang-orang seperti ini menjadi sebuah peringatan kepada para perempuan muslimah untuk terus menjaga diri mereka. Bahaya bukan lagi metafora atau analogi; sudah bukan lagi diksi yang terbungkus fiksi. Namun, bukan pilihan yang sepenuhnya bagus juga kalau kita memilih untuk menjauh dari peradaban modern. Karena sejatinya, teknologi terus melesat maju; itu tujuannya untuk kebaikan, supaya orang-orang terus berkembang. Bahaya itu adalah hal eksternal yang datang setelah oknum-oknum tak bertanggung jawab menggunakannya. Menegangkan diri sendiri atau menginspirasi orang lain untuk berkembang. Ia bisa membagikan konten-konten inspiratif untuk membuat orang-orang lain ikut berjemaah. “Dakwah modern” atau “dakwah digital” istilahnya.


Namun, timbul pertanyaan baru: “Bukankah seorang muslimah dilarang untuk menampakkan dirinya?” Iya, benar. Tapi apakah dakwah di internet itu mengharuskan kita untuk memperlihatkan fisik  kita? Tentu tidak. Kita bisa menggunakan model konten yang hanya mengandalkan voice-over, ditambah sedikit mentahan sebagai visual di videonya. selesai. Bahkan beberapa orang lebih tertarik menonton konten dengan visual seperti itu. Tak ada halangan untuk berkembang, asalkan kita mau melakukannya.


Dan di saat kita sudah masuk ke dunia dakwah digital ini, ada satu hal yang harus diperhatikan. Ini juga menjadi hal yang sering dilupakan orang-orang. Dorongan hati untuk terus mengais validasi. Dorongan yang terlihat biasa saja, terlihat normal. salahkan kita saat menginginkan validasi? Tentu tidak, sudah menjadi fitrah manusia untuk menginginkan dirinya dipuji. Tak ada yang salah dengan menginginkan validasi. Yang menjadi masalah adalah saat kita tidak bisa mengontrol keinginan itu, membiarkannya tumbuh subur. Sama seperti mencintai. Tak ada yang salah dengan mencintai. Tapi masalahnya datang saat kita tak bisa mengontrol rasa cinta itu, lalu mengimplementasikannya dengan pacaran.


Dakwah tentu harus diselimuti dengan niat yang baik. Tak masalah jika niat untuk tenar, niat supaya mendapatkan banyak followers itu datang . Karena itu, semua normal. Tapi niat itu harus kembali diperbaiki. Tidak perlu dikenal banyak orang. Apalagi kalau kita seorang muslimah. Apa yang disampaikan saja yang harus diketahui orang banyak, untuk menjadi bahan refleksi, tidak perlu orang yang menyampaikan. Akan sangat bagus jika apa yang kita sampaikan diketahui oleh jutaan orang, diamalkan oleh jutaan orang, tanpa memedulikan bentuk fisik orang yang menyampaikan itu. Kenapa tidak boleh bila ada yang tahu bentuk fisik kita? bukan tak boleh, boleh saja asa;kan sesuai dengan syari’at. Tapi, akan lebih baik jika tak ada yang tahu.


Saat kita memposting sebuah konten dakwah, seharusnya yang kita harapkan dari konten itu adalah pahala bila ada orang yang mengamalkan apa yang kita sampaikan. tak perlu figur kita di sana. Bahkan saat orang meragukan apa yang kita sampaikan, yang ia cari adalah dalil, argumen, dan pembuktian secara ilmiah, bukan figur kita. Saat orang lain berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik karena menonton konten kita, kita akan bersinar, walaupun sinar itu tak pernah bisa dilihat mata.


Bahkan orang-orang sibuk memuji indahnya bulan dan bintang di malam hari, melupakan bahwa malamlah yang membuatnya terang. Malam mengambil peran penting untuk membuat bulan dan bintang bercahaya sempurna. Tak perlu ada orang yang memujinya. Ia ada, ia berperan, tapi ia tak bisa diperhatikan. Jadilah sebab tanpa harus meninggalkan guratan saat meninggalkan. Lampu yang telah kamu pasang tak akan menjadi tidak berfungsi saat kamu tak hadir. Ia akan terpatri di dalam jiwa, walau kamu tidak ada di sana.