Menjadi Malahayati Modern
| Ilustrasi Malahayati |
Oleh: nsrurelhasyimiy
Bagi sebagian orang, cerita Malahayati adalah hal biasa yang sudah jamak terdengar. Cerita sosok perempuan tangguh dari negeri Aceh yang mempertaruhkan nyawanya melawan mereka yang berani menyentuh tanah Aceh dengan tangan yang kotor. Sosok perempuan yang berani mengayunkan tangan dengan rencong yang ketajamannya dapat memantulkan gambar keindahan lautan Aceh.
Pada kisah yang terekam jelas dalam buku sejarah, Malahayati memimpin penyerbuan terhadap kapal-kapal Belanda bersama armadanya, Inong Balee. Meriam ditembakkan. Teriak perintah bercampur dengan kayu patah dan logam beradu. Pasukan Aceh memanjat lambung kapal menggunakan tali dan kait. Pertempuran yang awalnya berada di jarak jauh kemudian berubah menjadi perkelahian jarak dekat. Di tengah kekacauan itu, Malahayati naik ke geladak. Di hadapannya berdiri Cornelis de Houtman. Dalam ingatan populer, keduanya bertarung satu lawan satu. Cornelis membawa pedang Eropa yang panjang; Malahayati membawa rencong yang tajam. Cornelis lebih besar; Malahayati lebih cepat. Pedang Cornelis menyapu ujung udara. Malahayati menghindar; kapal pun bergoyang. Malahayati menunggu; ia membaca gerakan bahu lawannya, memerhatikan gerakan kakinya, lalu bergerak ketika Cornelis kehilangan keseimbangan. Jarak panjang yang menguntungkan Cornelis pun akhirnya menghilang. Rencong Malahayati pun menembus tubuh sang Belanda. Cornelis de Houtman roboh di atas geladak kapalnya sendiri.
Semangat dan kekuatan yang begitu besar dari sosok wanita yang bernama Kemala Hayati itu tidak muncul dengan sendirinya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketangguhan, kekuatan, dan semangat yang begitu besar itu lahir dari kehidupan yang juga begitu keras. Pada catatan sejarahnya, Malahayati pernah menikah dengan seorang pelaut. Tidak banyak kisah yang membicarakan kisah pribadi keduanya, tapi kita bisa tahu bahwa Malahayati dan suaminya sama-sama merasakan pahit manisnya kehidupan lautan. Karena pada masa itu, lautan bukan hanya jalan raya untuk dilalui kapal perdagangan, tetapi juga jalan raya untuk dilalui kapal peperangan. Perempuan mana pun yang menunggu suaminya pulang dari laut hanya akan mendapatkan dua kemungkinan: berita kepulangan dengan membawa ikan,atau berita kehilangan. Dan perempuan yang bernama Kemala Hayati itu mendapatkan pilihan yang kedua, di mana suaminya tak akan lagi mengetuk pintu rumahnya. Malahayati kehilangan rumah, satu-satunya tempat untuk ia pulang.
Apakah dengan kehilangan itu Malahayati merasakan kesedihan? Tentu. Tapi apakah ia menyerah? Tidak. Ia mengumpulkan semua perempuan yang mengalami nasib yang sama dengannya. Membentuk sebuah pasukan yang akhirnya diberi nama Inong Balee. Malahayati tidak pernah menjanjikan suami mereka akan kembali hidup. Tapi ia memberikan pilihan kepada mereka. Ingin tetap merasakan kesedihan sampai mereka tua dan akhirnya meninggal, atau memperjuangkan tanah kelahiran suami mereka supaya tidak direbut oleh orang-orang yang mereka sebut sebagai “kaphe” itu.
Sosok Malahayati bisa menjadi inspirasi bagi banyak wanita di seluruh dunia. Di saat negara-negara Eropa di masa itu masih belum memercayai perempuan sebagai pemimpin, di saat orang-orang masih meremehkan kekuatan dan ketangguhan dari seorang perempuan, Malahayati menghancurkan semua anggapan itu.
Namun, sosok Malahayati yang sebenarnya telah menjemput mahkota syahidnya. Tidak ada lagi Malahayati di zaman sekarang. Tapi sosok wanita tangguh, sosok wanita sholehah, sosok wanita cerdas dengan semangat perjuangan yang luar biasa masih bisa diciptakan dalam diri kita. Tidak ada lagi Belanda yang mengancam lewat lautan, tidak ada lagi Belanda yang menembakkan meriam mematikan, tapi masih ada nafsu yang menjadi penjajah hati kita, masih ada kebodohan yang akan terus menembakkan meriam kesesatan di dalam pikiran, membunyikan dentuman yang jauh lebih besar daripada meriam Belanda itu.
Melawan nafsu tak cukup menggunakan pedang. Melawan nafsu tak cukup menggunakan meriam atau senapan; melawan nafsu membutuhkan senjata yang jauh lebih kuat dari itu. Senjata itu adalah iman. Perempuan dengan iman yang kuat tidak akan luluh oleh godaan dunia yang mematikan, tak akan rapuh dimakan modernitas dengan segala hal yang menyimpang yang ada di dalamnya. Perempuan yang hebat bukan yang mampu mengikuti semua tren modern. Tapi perempuan yang hebat adalah mereka yang tak jatuh walau ditimpa tekanan untuk terlihat keren. Karena pada dasarnya, dunia tak butuh orang-orang yang bisa memperlihatkan kecantikannya di mata umum. Tapi dunia butuh orang yang dengan akhlaknya ia terlihat anggun.
Lalu bagaimana caranya agar seorang perempuan bisa dengan kuat menjaga imannya? Dengan ilmu agama. Ilmulah yang dapat mengajarkan mereka bagaimana bersikap, bagaimana berpenampilan, dan bagaimana melihat dunia dengan cara yang berbeda. Mata kita hanya dua. Terlalu sedikit untuk melihat dunia yang begitu luas. Di saat orang lain sibuk memamerkan tubuh mereka di media sosial, menganggap itu hal yang umum untuk dilakukan, menganggap itu hal yang keren, sehingga ikut-ikutan menjadi jawaban untuk mengikuti perkembangan zaman, ilmu agama mengajarkan kita untuk terus teguh, mengajarkan kepada kita untuk memandang sisi lain dari dunia baru ini. Kita punya batasan. Hanya sedikit yang paham makna dari batasan itu. Terlihat keren tidak selalu berarti mengikuti tren. Keren juga tidak selalu berarti validasi dari orang-orang. Bahkan tren itu terkadang menghancurkan kita, menjatuhkan harga diri kita. Orang-orang akan dengan mudah menjadikan kita sebagai objek imitasi, objek imajinasi, objek fantasi.
Di saat banyak perempuan di luar sana yang sibuk memamerkan tubuhnya di media sosial, mengikuti hawa nafsunya, alangkah luar biasa perempuan-perempuan yang masih bisa bertahan, masih teguh dengan iman. Malahayati dianggap pahlawan setelah menjaga lautan. Kita juga bisa menjadi pahlawan jika kita kuat menjaga iman. Kita punya kekuatan yang begitu besar sekaligus berbahaya di dalam diri kita. Meluluhkan. Itulah kekuatan kita. Kekuatan yang sangat besar bermanfaat jika digunakan dengan baik. Dan kekuatan itu akan menjadi sangat berbahaya jika tidak dikontrol dengan pikiran, tidak dikontrol dengan iman.
Kita bisa membuat orang lain mencair bak lautan. Dan itu tidak berarti kita harus ikut dibuat cair oleh peradaban.